HUT 51 GKJ Nehemia

Majalah Gembala dalam rangka Ulang Tahun ke-51 GKJ Nehemia mempersembahkan:

SEJARAH BERDIRINYA GKJ NEHEMIA
DAN PERKEMBANGANNYA

(Andreas Hutomo)

Gereja Kristen Jawa Betawi
Pada awal tahun 1942 Gereformeerde Kerk Kwitang  sebagai pelindung, membantu Kelompok Jemaat berbahasa Jawa. Tetapi karena keadaan ekonomi pada waktu itu semakin tidak menentu dengan datangnya Tentara Jepang, maka Kelompok Jemaat berbahasa Jawa tersebut pada hari Minggu, 21 Juni1942 terpaksa didewasakan sebagai Gereja Kristen Jawa Betawi, yang dikemudian hari menjadi GKJ Jakarta dengan anggota majelis pertama :
1. Bp. Basuki Probowinoto, sebagai Penetua
2. Bp. Soemarjo, sebagai Penetua
3. Bp. Soedarmo, sebagai Penetua
4. Bp. Jatman, sebagai Diaken
5. Bp. Sisworo, sebagai Diaken

Jemaat yang belum mempunyai Pendeta sendiri ini lalu bergabung dengan Klasis Yogyakarta, Jawa Tengah. Yang semula di Kwitang maka tempat kebaktian lantas pindah ke SD Kernolong.
Mulai hari itu juga ada hasrat dari kelompok Salemba 10 untuk bersatu dengan jemaat GKJ yang dulu mengadakan kebaktian di Kernolong.
Persatuan ini diresmikan pada hari Minggu, 30 Agustus 1942, yang  menjadi Pendeta Konsulen ialah Bp. Ds. K. Tjokrosoewondo dari GKJ Bandung. Jumlah warga gereja pada waktu itu sudah mencapai 121 orang (wanita dan pria).

Setelah satu tahun jemaat GKJ Jakarta berjalan tanpa pendeta, maka akhirnya pada hari Minggu, 28 Maret 1943 Bp. Basuki Probowinoto ditahbiskan sebagai pendeta pertama di GKJ Jakarta oleh Ds. Darmohatmodjo dari Yogyakarta. Dalam satu tahun itu warga gereja bertambah menjadi 203 orang, dan selanjutnya pada tgl, 17 Agustus 1943 anggotanya menjadi 223 orang.

Kelompok Bogor dan sekitarnya dilayani oleh pendeta dari GKJ Bandung Ds. K. Tjokrosoewondo sebulan sekali, dan setelah Ds. Probowinoto menjadi pendeta di GKJ Jakarta maka beliau juga melayaninya.
Pada tgl, 25 Maret 1945 jemaat GKJ Jakarta memanggil Bp. Roesman Moeljodwiatmoko untuk membantu Ds. Probowinoto, karena daerah kerjanya semakin luas, sampai ke kota Banten.
Kesibukan Pendeta Ds. Probowinoto bertambah setelah beliau diangkat menjadi Penghubung Umat Kristen dengan Pemerintah sampai tanggal 1 Februari 1946.
Pada tanggal 25 juli 1948 setelah melampaui prosedur tata-gereja yang berlaku, maka Bp. Roesman Moeljodwiatmoko ditahbiskan sebagai Pendeta GKJ Jakarta.

Sejak tahun 1944 di GKJ Jakarta mulai timbul pemikiran untuk mendirikan gedung gereja, sehingga tidak perlu pindah-pindah tempat kebaktian. Pada tahun 1952 dibentuklah Panitia Pembangunan Gereja. Pada tanggal 6 Nopember’66 Bp. Ds. Roesman Moeljodwiatmoko meletakkan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan gedung gereja di Jl. Persahabatan-Rawamangun dan selesai pada tanggal 29 Juni 1969 dan sudah siap untuk dipakai kebaktian.


Gereja Kristen Jawa Kebayoran
Kelompok warga jemaat GKJ Jakarta yang tinggal di daerah Kebayoran ingin melaksanakan Kebaktian sendiri setiap Minggu sore. Keinginan mereka akhirnya terpenuhi dan Kebaktian pertama dilaksanakan pada hari Minggu, 15 Februari 1953 di salah satu ruang kelas SMA Negeri Kebayoran (sekarang SMA 6) dan dilayani oleh Bp. Ds. Roesman Moeljodwiatmoko.
Kebaktian ini dapat terlaksana karena bantuan pimpinan Sekolah Soemarto Elifas yang kebetulan merupakan salah satu warga jemaat. Kebaktian perdana ini dihadiri 20 orang jemaat.
Ruang kelas sebagai tempat ibadah tersebut beratapkan seng, sehingga kalau pas kebaktian kemudian turun hujan maka menimbulkan suara yang berisik. Namun demikian mereka yang kebaktian tidak begitu merasa terganggu, mungkin menyadari karena memang hanya nunut.

Pada tahun 1955 tempat kebaktian warga kelompok Kebayoran dipindakan ke Sekolah Grafika di Jalan Melawai setiap Minggu sore. Ruangannya lebih luas dan jemaatnya bertambah. Kegiatan Kelompok Kebayoran dari GKJ Jakarta semakin meningkat.

Pada tahun 1960 Kelompok Pemahaman Alkitab yang pertama dibentuk dan diberi nama Purnomosidi yang artinya bulan purnama. Nama tersebut dipakai karena kelompok Pemahaman Alkitab ini mengadakan kegiatan setiap bulan pada waktu bulan purnama, yang berarti mengikuti kalender atau Penanggalan Jawa. Waktu itu memang belum ada lampu-lampu untuk penerangan jalan, oleh karena itu barangkali memanfaatkan terangnya bulan purnama.
Kelompok PA Purnomosidi ini dipelopori oleh Bp. Soemarto Dibjopranoto, Bp. Soekamto dan Bp. Nimpoeno.

Perkembangan kelompok Kebayoran semakin pesat, sehingga memerlukan tempat ibadah yang lebih luas dan nyaman. Pada tahun 1961 kelompok Kebayoran menumpang kebaktian di GKI Kebayoran Baru Jalan Panglima Polim. Kebaktian dilaksanakan pada setiap Minggu sore pukul 16.00 – 17.30, karena pada pukul 18.00 dipakai kebaktian sendiri oleh GKI Kebayoran Baru.

Pada hari Kamis, 5 April 1962 Kaum Wanita kelompok Kebayoran mendirikan persekutuan Ibu Ester dengan Ketua Ibu Dhanupranoto. Tetapi Kemudian persekutuan Ibu Ester ini karena menyesuaikan dengan Ikatan Kaum Wanita di GKJ Jakarta diganti namanya menjadi persekutuan Ibu Sarah.

Jumlah warga kelompok Kebayoran semakin bertambah dengan cepat, hal ini dapat dilihat ketika tahun 1966 dalam Kebatian pukul 16.00 di GKI Kebayoan baru peserta Perjamuan Kudus dari warga dewasa kelompok Kebayoran sebanyak 400 orang.

Pada pertengahan tahun 1967 Kelompok PA Purnomosidi atas usulan Bp. Nimpoeno berubah nama menjadi Kelompok PA Sabda Mulya, karena ada beberapa anggota yang menganggap kata Purnomosidi itu tidak sesuai dengan suasana Kristen.
Bahkan salah satu anggota yaitu Bp. Udiran mengatakan kayaknya berbau kumpulan Kebatinan.

Pada tahun 1968 dibentuk lagi Kelompok Pemahaman Alkitab dengan nama Kelompok Pemahaman Alkitab Yokanan. Kelompok Pemahaman Alkitab Yokanan ini dibentuk bertepatan  dengan diselenggarakannya Pekan Pentakosta tahun 1968 di Jl. Gunung 10, Kebayoran Baru.
Pembentuka PA Yokanan ini diprakarsai oleh Bp. Soemarto Dibjopranoto dan Bp. Soegiarto Tjokrosoegondo. PA Yokanan ini khusus untuk warga yang tinggal di wilayah sekitar Kebayoran.

Jumlah warga GKJ Jakarta yang tinggal di wilayah Kebayoran semakin bertambah seiring dengan perkembangan daerah Kebayoran secara umum.
Sehingga pada tahun 1970 itu jumlah warga GKJ Jakarta kelompok Kebayoran sudah mencapai 850 orang yang tidak hanya dari suku Jawa saja tetapi juga dari suku yang lain.

Menyadari bahwa warga Kelompok Kebayoran pasti akan terus meningkat dan menyadari pula perlunya mengemban tugas-tugas misioner yang perlu dikembangkan, maka majelis GKJ Jakarta kelompok Kebayoran memikirkan untuk belajar mengatur Rumah Tangga sendiri, supaya
di kemudian hari dapat berdiri jemaat GKJ Kebayoran yang dewasa.
Pada saat itu anggota Majelis GKJ Jakarta untuk kelompok Kebayoran adalah Bp. F.W. Singotaroeno, Bp. Soegiarto Tjokrosoegondo, Bp. Rinekso, Bp. Soetrisno, Bp. Soemarto Dibjopranoto dan Bp. Soeratto.
Gagasan  mendewasakan diri ini setelah ditimbang-timbang dengan masak-masak lalu disampaikan kepada majelis GKJ Jakarta. Rupanya ada kesan bahwa Majelis GKJ Jakarta tidak begitu suka dengan keinginan tersebut, bahkan Pdt. Roesman Muljodwiatmoko sendiri tidak setuju dengan keinginan majelis kelompok Kebayoran. Bahkan ada juga anggota Majelis yang berpendapat demikian : “Apa mungkin mengatur rumah tangga sendiri, sedangkan anggotanya terdiri dari koki, tukang kebon dan pegawai negeri?”
Pendapat itu tidak ditanggapi karena  kelompok Kebayoran hanya melihat jiwanya anggota gereja saja, dan bukan status pekerjaan maupun kedudukannya dalam masyarakat.
Akhirnya Majelis GKJ Jakarta melaporkan hal ini kepada Klasis Tegal yang membentuk Panitia Penjajagan untuk kelompok Kebayoran. Beberapa kali diadakan sidang di gedung Sekolah Yayasan Pendidikan Kristen (YPK), yang dipimpin Ketuanya Bp. Soemarto Dibjopranoto.
Panitia Penjajagan berpendapat bahwa usul kelompok Kebayoran adalah pantas, serta sungguh-sungguh, keluar dari hati yang murni dan yang menunjukkan keinginan untuk hidup mandiri. Bahkan kelompok Kebayoran berharap di kemudian hari akan dapat membantu gereja yang sekeng di lain tempat.

Akhirnya tibalah hari yang sangat bersejarah dan penuh puji syukur bagi kelompok Kebayoran yakni pada tanggal 1 Januari 1971 dalam kebaktian pukul 16.00 yang dipimpin oleh Bp. Pdt. Roesman Moeljodwiatmoko, diresmikanlah pembiakan kelompok Kebayoran menjadi Gereja Kristen Jawa Kebayoran.
Proses pembiakan tersebut bisa terjadi dengan ketentuan sebagai berikut.
1. Nama Jemaat yang akan dipakai ialah GKJ Kebayoran
2. Keanggotaannya tidak terikat dengan tempat tinggal
3. Pdt. Roesman Moeljodwiatmoko sebagai Pendeta konsulen
4. Segala sesuatu yang belum jelas dan belum dibicarakan akan diselesaikan bersama

Kemajelisan
Setelah didewasakan maka jemaat GKJ Kebayoran dibagi menjadi 13 wilayah yang tersebar di Jakarta Selatan.
Dalam Rapat Majelis yang pertama tanggal 8 Januari 1971 ditetapkan Susunan Majelis GKJ Kebayoran sbb.:
Pendeta Konsulen       :  Bp. Pdt. Roesman Moeljodwiatmoko
Ketua Majelis              :  Bp. F.W. Singotaroeno
Wk. Ketua Majelis       :  Bp. Soegiarto Tjokrosoegondo
Sekretaris (Scriba)       :  Bp. Soemarto Dibjopranoto
Bendahara (kwestor)  :  Bp. Soeratto
Anggota/Tua-tua        :  Bp. Rinekso
Anggota/Tua-tua        :  Bp. Soenarjo Sir
Anggota/Diaken          :  Bp. Soetrisno

Pada tanggal 28 Februari 1971 untuk pertama kalinya dilakukan Baptisan yang dilayankan oleh Pdt. Soesilo Djojosoedarmo.

Majelis yang berjumlah 7 orang itu tentu dirasakan sangat kurang untuk melayani 13 wilayah. Oleh karena itu kemudian pada tanggal 17 Maret 1971 diadakan penambahan Majelis sebanyak 5 orang sehingga menjadi 12 orang. Para anggota Majelis Baru tersebut  yaitu Bp. Soedirdjo,
Bp. Ir. Martsanto, Bp. Drs. Soedharto, Bp. Soetopo Paulus dan Bp. Soekirman.

Disamping itu sebagai kelengkapan pelayanan dan berfungsi sebagai kepanjangan tangan Majelis dibentuklah komisi-komisi antara lain Komisi Wanita, Komisi Pemuda, Komisi Pemahaman Alkitab, Komisi P3J dan Komisi Pembangunan Gereja.

Sementara itu Kebaktian setiap Minggu tetap menumpang di GKI Kebayoran Baru dengan segala fasilitasnya, kecuali untuk Perayaan Natal. Untuk Perayaan Natal GKJ Kebayoran mendapat pinjaman tempat di sekolah YPK Jalan Wijaya.
Atas inisiatif Bp. Soetopo Paulus, GKJ Kebayoran juga mengadakan pelayanan di Rumah Sakit Fatmawati setiap Minggu sore pukul 16.00 selama 2 tahun dengan tingkat kehadiran rata-rata
20 – 30 orang.
Oleh sebab itu Kemudian timbullah kesulitan menyangkut pelayanan firman.
Pdt. Roesman Moeljodwiatmoko selaku Pendeta Konsulen GKJ Kebayoran tentu lebih diprioritaskan untuk melayani jemaatnya di GKJ Jakarta.
Untuk mengatasi hal tersebut Majelis GKJ Kebayoran meminta bantuan pelayanan dari pendeta Gereja-gereja lain dan para Pendeta ABRI.

Karyawan Gereja
Dalam rangka meningkatkan kinerja pelayanannya, maka pada tahun 1971 Majelis mengangkat tenaga Tata Usaha pertama atas diri sdr. Soewarno. Pada Tahun 1974 Sdr. Soewarno pindah menjadi pegawai PLN dan sebagai penggantinya maka diangkatlah Sdr. Pranyoto.
Namun pada tahun 1980 ia juga pindah dan menjadi Guru.
Kemudian diangkatlah Sdr. Sukadi menjadi Tata Usaha Kantor Gereja dan pada bulan Agustus 1982 Majelis menambah tenaga untuk membantu administrasi keuangan atas diri Sdr. Wiyadi.

Pemanggilan Pendeta 1
Berkaitan dengan hal pelayanan sebagai Jemaat yang sudah dewasa dan mandiri, memiliki pendeta sendiri merupakan kebutuhan mutlak. Hal ini sudah menjadi pemikiran para Majelis sejak kelompok Kebayoran didewasakan menjadi GKJ Kebayoran.
Selanjutnya dilakukanlah usaha untuk mencari dan meneliti siapa sebaiknya yang menjadi Pendeta di GKJ Kebayoran. Akhirnya panitia memberi tugas Bp. Soegiarto Tjokrosoegondo  ke Jawa Tengah dan berjumpa dengan seorang Sarjana Theologia yang masih muda bernama Soetarman. Pada tanggal 13 Desember 1970 Soetarman, STh melayankan khotbah pada pukul 16.00 di GKI Kebayoran Baru atas undangan Majelis GKJ Kebayoran. Seperti diketahui bahwa GKJ Kebayoran menumpang Kebaktian di GKI Kebayoran Baru Jl. Panglima Polim sebelum mempunyai gedung gereja sendiri.
Pada tanggal 1 Mei 1971 dalam Rapat Majelis diputuskan bahwa Sdr. Soetarman dipanggil sebagai Vikaris atau calon Pendeta untuk GKJ Kebayoran.
Pada tanggal 6 Mei 1971 Soetarman memulai tugasnya sesudah bersedia dipanggil untuk menjadi Pendeta di Kebayoran Baru. Orang muda yang bernama Soetarman tersebut berasal dari GKJ Nusukan-Surakarta yang sedang menjalankan tugas pelayanan di sana selama 1 tahun, karena GKJ Nusukan belum mempunyai Pendeta sendiri.

Sebelum Bp. Soetarman ditahbiskan sebagi Pendeta, maka Ds. Roesman Moeljodwiatmoko dari           GKJ Rawamangun tetap menjadi Pendeta Konsulen untuk GKJ Kebayoran yang pada tanggal 15 Februari 1953 sudah lahir.
Memenuhi prosedur gereja yang harus ditempuh, dalam Sidang Klasis kontrakta Klasis Tegal IV tanggal 11 Oktober 1972 melaksanakan ujian peremptoir untuk calon pendeta Soetarman, STh dan dinyatakan lulus.
Akhirnya pada tanggal 29 Nopember 1972 Vik. Soetarman, STh ditahbiskan menjadi Pendeta GKJ Kebayoran oleh Pdt. Roesman Muljodwiatmoko di Gedung GKI Kebayoran Baru.
(catatan ini dari Tim Penulisan Sejarah GKJ Kebayoran yang terdiri dari Drs. Singotaroeno, SH, Soetrisno, SH, Drs. Soedirdjo, Drs. Srijadi Joedosoewarno, Ds. Soetarman, MTh, Soeratto dan Soemarto Dibjopranoto).

Perkembangan
Sebagai jemaat yang mandiri dan dewasa, GKJ Kebayoran terus melakukan pembenahan diri, diantaranya mengenai tata cara pelayanan Perjamuan Kudus. Setelah memperoleh penjelasan baik yang tercantum dalam Keputusan Sidang Sinode GKJ II di Purwokerto maupun berdasarkan penjelasan dalam buku Pambanguning Sariranipun Sang Kristus halaman 147 yang disusun oleh Pdt. Rullman, maka setelah melihat adanya beberapa usulan alternatif kemudian diputuskan:
Waktu pelayanan Perjamuan Kudus yaitu dilaksanakan 4 X setahun yaitu bulan Januari, Jumat Agung, bulan Juli dan hari Perjamuan Kudus sedunia.
Perjamuan Kudus pada bulan Januari dan Juli dilaksanakan pada hari Minggu ke dua dengan pengantar Bahasa Jawa.   
Dan seterusnya pelayanan Perjamuan Kudus dilaksanakan setiap bulan Januari hari Minggu ke dua, Hari Jumat Agung, setiap bulan Juli hari Minggu ke dua dan Hari Perjamuan Kudus se dunia pada bulan Oktober.
Disamping itu majelis juga memutuskan Majelis BPH (Badan Pekerja Harian) yang terdiri dari:
Ketua Majelis
Wakil Ketua Majelis Bidang Keesaan Pembinaan
Wakil Ketua Majelis Bidang Kesaksian dan Pelayanan
Wakil Ketua Majelis Bidang Penatalayanan
Sekretaris I
Sekretaris II
Bendahara I
Bendahara II
Kemudian diputuskan pula bahwa Rapat Majelis BPH ditetapkan pada hari Jumat pertama awal bulan.
Sedangkan rapat Majelis Pleno yang terdiri dari Pendeta, Penatua dan Diaken dilaksanakan pada hari Jumat ke dua setiap bulan.

Sesuai dengan perkembangan jumlah jemaat yang tinggal di DKI Jakarta, Depok dan Tangerang maka jumlah warga jemaat GKJ Kebayoran mencapai 1.050 orang yang dibagi dalam 16 wilayah.
Maka terpikirkan pula untuk menambah jumlah gembala.

Pemanggilan Pendeta 2
Setelah empat bulan Pdt. Soetarman ditahbiskan, maka pada tanggal 1 April 1973 dipanggillah Humprey Sudarmadi Kariodimedjo, STh lulusan STT Jakarta sebagai tenaga khusus yang menangani masalah pemuda, remaja dan Sekolah Minggu. Namun pada pertengahan tahun 1975 ia mengakhiri tugasnya karena dipanggil menjadi pendeta di GKJ Gondokusuman-Yogyakarta. Sehingga kini tenaga Gembala Jemaat kembali tinggal Pdt. Soetarman sendiri.
Usaha untuk mencari penggantinya terus-menerus dilakukan, dan baru pada pertengahan tahun 1979 yang saat itu jumlah jemaat bertambah menjadi 2.200 orang maka Pdt. Harsono, BTh alumni STT Duta Wacana-Yogyakarta (sebelumnya sebagai gembala jemaat di Gereja Kristen Bengkulu-Talang Boseng) dipanggil sebagai pendeta ke-2 untuk GKJ Kebayoran.
Kemudian diteguhkan pada tanggal 4 Juni 1979 bersamaan dengan peresmian gedung gereja Depok sekaligus berdirinya Pepanthan Depok.
Pepanthan Depok baru didewasakan 14 th kemudian yaitu pada tanggal 4 Juni 1993 menjadi GKJ Yeremia.

Perkembangan jumlah jemaat terjadi pula di daerah Tangerang sehingga pada  9 Agustus 1981 diresmikanlah Pepanthan Tangerang. Pada mulanya kebaktian dilakukan di rumah warga kemudian berpindah ke Gedung Sekolah Katolik Strada dan terakhir di kompleks Geofisika-Tanah Tinggi, Tangerang di kediaman Ir. Soepomo yang juga motor penggerak cikal bakal Pepanthan Tangerang.

Pemanggilan Pendeta 3
Sementara itu kebutuhan akan tenaga Pembina di gereja induk sangat terasa, khususnya untuk pemuda, remaja dan Sekolah Minggu. Oleh karena itulah maka majelis GKJ Kebayoran pada tanggal 1 April 1983 memanggil Samuel Bambang Haryanto, STh lulusan STT Jakarta sebagai tenaga khusus yang kemudian diarahkan untuk menjadi gembala jemaat.
Pada tahun 1983 itu jumlah jemaat GKJ Kebayoran sudah menjadi 2.875 orang.
Samuel Bambang Haryanto, STh ditahbiskan menjadi pendeta pada tanggal 15 Agustus 1986 sebagai pendeta ke-3 di GKJ Kebayoran.

Pada tahun itu juga berkat Tuhan datang dengan diberikannya kesempatan bagi Pdt. Soetarman untuk studi lanjut S2 di Calvin Theological Seminary di Grand Rapids Michigan Amerika Serikat. Dan berkat ketekunannya serta campur tangan Tuhan, gelar Masternya diraih hanya dalam jangka waktu 10 bulan.

Pada mulanya wilayah Tangerang yang pada akhir tahun 1980 membentuk Paguyuban Warga Kristen Jawi yang dikoordinir oleh Ir. Soepomo. Dan pada 9 Agustus 1981 Paguyuban Warga Kristen Jawi Tangerang ini diresmikan menjadi GKJ Kebayoran Pepanthan Tangerang.
Awalnya kebaktian dilaksanakan di rumah keluarga Partono seorang warga jemaat sampai pertengahan tahun 1982. Pada tanggal 6 Juni1982 kebaktian dipindahkan ke gedung sekolah Katolik Strada sampai akhir Agustus 1983. Kemudia awal September 1983 kebaktian dilaksanakan di kompleks Geofisika Tanah Tinggi Tangerang di rumah Ir. Soepomo yang sejak awal menjadi motor penggerak jemaat di Tangerang.
Dengan dukungan penuh dari warga jemaat wilayah Tangerang maka pada Tahun 1983 dibangunlah gedung gereja Pepanthan Tangerang.
Kebaktian Pada tanggal 17 Juni 1984 gedung Gereja Pepanthan Tangerang secara resmi sudah dapat digunakan sebagai tempat beribadah. Pada saat itu jumlah warga Pepanthan Tangeran sudah menjadi 53 dewasa dan 23 anak.
Setelah 16 tahun menjadi Pepanthan, GKJ Nehemia Pepanthan Tangerang didewasakan menjadi GKJ Tangerang pada 29 Agustus 1997.


Gereja Kristen Jawa Nehemia
Yang cukup mengherankan, dua pepanthan yaitu Pepanthan Depok dan Pepanthan Tangerang yang anak GKJ Nehemia sudah mempunyai gedung gereja sendiri, tetapi justru induknya masih menumpang di GKI Kebayoran Baru.
Kemudian dibentuklah Panitia untuk Pembangunan Gedung Gereja Kebayoran dengan Ketua Panitianya Bp. Soemario.
Dengan kerja keras Panitia Pembangunan didukung penuh oleh jemaat dan beberapa pihak antara lain Ketua Yayasan Nehemia Bp. Hediyanto dan Ketua Majelis Pdt. Harsono maka tanggal 24 Nopember 1984 dilakukan peletakan batu pertama tanda dimulainya pembangunan gedung gereja yang dihadiri sekitar 20 orang termasuk Pendeta.
Jemaat sangat antusias untuk bisa memberikan sumbangan dalam rangka pembangunan gedung gereja ini sedangkan kekurangannya ditutup oleh antara lain Bp. Drs. Radius Prawiro, Bp. Hediyanto dii. Namun menurut sumber yang layak dipercaya Bp. Radius Prawiro memberikan kontribusi hampir 95% sendiri.
Hal ini bisa dimaklumi karena adanya pesan dari Bp. Wiryoprawiro dan Ibu Sukestri ayah dan Ibu dari Pak Radius agar GKJ Kebayoran dipikirkan.
Pembangunan gedung gereja dapat  diselesaikan pada tanggal 6 Nopember 1985.
Bp. Soemario selaku Ketua Panitia Pembangunan dalam laporannya menyebutkan bahwa gedung gereja dengan arsitektur modern itu bisa menampung 1.120 jemaat dan menghabiskan biaya sekitar 350 juta rupiah. 
Akhirnya pada tanggal 29 Nopember 1985 maka gedung gereja diresmikan oleh Wagub DKI Jakarta Bidang  Kesra Drs. Anwar Ilmar dan dihadiri pula oleh Dirjen Bimas Kristen Departemen Agama Drs. Soenarto Martowiryono, Ketua II MPH-PGI Pdt. Dr. Soelarso Sopater, Menteri Keuangan Drs. Radius Prawiro selaku simpatisan dan pendukung dana,  serta Walikota Jakarta selatan Mochtar Zakaria, SH.
Dalam persesmian tersebut sekaligus dilaksanakan penggantian nama dari GKJ Kebayoran menjadi GKJ Nehemia.
Nama Nehemia dipakai karena nama GKJ Kebayoran tidak sesuai lagi dengan lokasi gedung gereja berada.
Menurut Pdt. Harsono selaku Ketua Majelis, pada saat itu jumlah jemaat  3.271 orang.

Kemudian Ketua Yayasan Nehemia Bp. Hediyanto meminta tambahan tanah kepada PT. Metropolitan Kencana untuk membangun sebuah gedung Serba Guna di sebelah gereja.
Pada tanggal 24 April 1989 dimulai peletakan batu pertama pembangunan Gedung Serba Guna oleh Pdt. Soetarman, Bp. Soetjipto dan Bp. Srijadi selaku Pengurus Yayasan Nehemia.
Puji Tuhan berkat dukungan jemaat dengan Janji Iman, pada tanggal 1 Januari 1990 bertepatan dengan Ulang Tahun ke-19 GKJ Nehemia diresmikanlah Gedung Serba Guna GKJ Nehemia.

Berkat Tuhan terus mengalir, pada tahun 1991 GKJ Nehemia mendapat hibah tanah dari keluarga Bp. F. Soemarko seluas 1.000 m2 untuk Diakonia di Bintaro yang dibangun untuk rumah karyawan dan Kemudian hari juga Pastori.  

Pada tahun 1985 kembali kesempatan diberikan kepada Pdt. Soetarman untuk melanjutkan studi pada jenjang S3 di Vrije Universiteit Amsterdam-Belanda dan mendapat gelar Doktorandus (Drs.) pada bulan Agustus1985. Kemudian bulan Nopember 1988 memperoleh gerar Doktor di Vrije Universiteit Amsterdam-Belanda.

Pemanggilan Pendeta 4
Pada tahun 1995 Majelis GKJ Nehemia memutuskan untuk memanggil pendeta lagi karena meski jemaat sudah berkurang sejak GKJ Yeremia dan GKJ Tangerang resmi mandiri, namun jumlah jemaat saat itu masih berkisar 4.500 orang.
Karena terjadinya beda pendapat antara Majelis dan Tim Pemanggilan Pendeta perihal pemanggilan calon pendeta tersebut, maka pemanggilan berjalan alot sehingga baru pada tanggal 2 Oktober 1998 memanggil dan menetapkan 2 orang calon pendeta yaitu Lusindo YL Tobing, STh lulusan STT Jakarta dan Agus Hendratmo, SSi lulusan UKDW-Yogyakarta.   
Pada tanggal 12 Mei 2000 Vic. Lusindo YL Tobing,STh dan Vic. Agus Hendratmo, SSi ditahbiskan menjadi Pendeta ke-4 dan ke-5 setelah tenaga Pendeta berkurang satu orang berkenaan dengan dipanggilnya Pdt. Harsono ke pangkuan Bapa di Surga pada tanggal 16 Juni 1999 karena sakit kanker.

Pada tahun 2003 Hak Guna Bangunan Gedung Gereja Nehemia harus diperpanjang setelah masa berlaku 20 tahun berakhir. Kemudian oleh Majelis dibentuklah Tim Setifikasi tanah gereja yang Ketuanya Ibu Edi Sukiswantari Probo. Bukan untuk memperpanjang HGB tetapi sekaligus mengurus menjadi Sertifikat Hak Milik. Dan akhirnya Tim Sertifikasi berhasil memperoleh Sertifikat Hak Milik bukan hanya tanah tempat gedung gereja berdiri bahkan juga tanah hibah dari Bp. F. Soemarko di Bintaro.

Jemaat GKJ Nehemia jumlahnya berkurang lagi ketika Pepanthan Pamulang didewasakan pada tanggal 21 Juli 2007 menjadi GKJ Pamulang dan Pepanthan Kebayoran Lama menjadi GKJ Kanaan pada tangggal 9 Agustus 2008.

Pada tahun 2008 jumlah jemaat GKJ Nehemia 2.570 orang dilayani oleh 3 orang pendeta, setelah Pdt. Dr. Soetarman, MTh emeritus.
Pada tanggal 7 Mei 2009 Pdt. Em. Dr. Soetarman.MTh dipanggil ke pangkuan Bapa di surga.  Pada tahun 2012 GKJ Nehemia mendapat tambahan pendeta baru sebagai Pendeta Pelayanan Khusus untuk STT Jakarta yang diteguhkan pada Kebaktian Khusus yaitu Kebaktian Pengutusan atas diri Pdt. Simon Rachmadi, MHum, MA tanggal 2 Nopember 2012.

Pada tanggal 16 Mei 2017 Pdt. Samuel Bambng Haryanto, STh, MMin genap berusia 60 th dan sesuai hasil rapat Majelis Lengkap dibentuklah Panitia Emeritus untuk Pdt. Samuel.
Pada tanggal 20 Mei 2017 bersamaan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional, dilaksanakan Kebaktian Emeritus untuk Pdt. Samuel Bambang Haryanto, STh, MMin.

Pada tahun 2017 merupakan anugerah yang luar biasa bagi jemaat GKJ Nehemia karena pada
tahun 2017, setelah 5 tahun menjadi Pendeta Pelayanan Khusus  Pdt. Simon Rachmadi telah menyelesaikan studinya pada Program S3 di Vrije Universiteit Ansterdam-Belanda dan memperoleh gelar PhD atau Doktor dan Pdt. Lusindo YL Tobing berhasil menyelesaikan studi Program S2 di STT Jakarta dan memperoleh gelar MTh. Sedangkan Pdt. Agus Hendratmo telah lebih dulu menyelesaikan Program S2 di STT Jakarta dan memperoleh gelar MTh dengan predikat sangat memuaskan sehingga dapat meneruskan ke Program S3 tanpa test terlebih dahulu. Pdt. Agus Hendratmo pada saat ini sedang menjalani studi Program S3 di STT Jakarta.    


* dari berbagai sumber

 

Share