KERAJAAN DEMAK Bagian 3

Cerita Rakyat

KERAJAAN DEMAK
Bagian 3
(Oka Respati)

  1. Sunan Prawata
    Sepeninggal Sultan Trenggana, selain Sunan Prawata terdapat dua orang tokoh kuat yakni
    Arya Penangsang Bupati Jipang dan Hadiwijaya alias Jaka Tingkir Bupati Pajang. Mereka berdua adalah keponakan dan mantu Sultan Trenggana. Arya Penangsang adalah putra Raden Kikin alias Pangeran Sekar Seda Lepen yang dibunuh oleh Sunan Prawata sewaktu perebutan kekuasaan pengganti Pati Unus.  

    Namun akhirnya putra sulungnya yang bernama Raden Mukmin alias Sunan Prawata naik tahta menggantikan ayahandanya dan dinobatkan menjadi Raja Demak ke empat pada tahun1521 M. Ia berambisi untuk meneruskan usaha ayahnya menaklukkan Pulau Jawa.
    Namun keterampilan politiknya tak begitu baik dan lebih suka hidup sebagai ulama daripada  seorang raja.

    Raden Mukmin memindahkan pusat pemerintahannya dari Demak ke bukit Prawata (sekarang Desa Prawata Kec. Sukolilo Kab. Pati), oleh karena itu kemudian Raden Mukmin lebih dikenal dengan nama Sunan Prawata.

    Satu persatu daerah bawahan Demak yang dengan susah payah ditaklukkan oleh ayahnya berkembang bebas seperti Banten, Cirebon, Surabaya dan Gresik sehingga terjadi kemunduran Kerajaan Demak yang sangat cepat.

    Arya Penangsang yang menaruh dendam pada Sunan Prawata karena membunuh ayahandanya Raden Kikin mendapat dukungan gurunya yaitu Sunan Kudus untuk merebut Demak. Pada tahun 1549 ia mengirim salah satu prajurit pilihannya yang bernama Rangkud untuk membalas kematian ayahnya. Pada suatu malam Rangkud berhasil menyusup ke dalam kamar tidur Sunan Prawata yang sedang menderita sakit dan bersandar pada isterinya.
    Sunan Prawata sempat bertanya siapakah tamu yang tidak diundang itu dan mendapat jawaban bahwa dia utusan Arya Penangsang untuk membalas dendam pada Sunan Prawata.     
    Sunan Prawata yang dalam keadaan lemah mengakui kesalahannya telah membunuh Pangeran Sekar Seda Lepen. Sunan Prawata rela dibunuh, asalkan keluarganya diampuni.
    Akhirnya Rangkud setuju lalu menikam sekuat-kuatnya dada Sunan Prawata yang pasrah tanpa perlawanan sampai tembus dan ternyata isteri Sunan Prawata yang berada dibalik punggungnya terkena ujung keris itu dan tewas seketika. Melihat isterinya tewas, Sunan Prawata menjadi marah dan dengan sisa-sisa tenaganya mencabut keris dibawah bantal yang
    bernama Kiai Betok dan dilemparkan ke Rangkud. Rangkud yang tergores oleh kembang kacang (hiasan pada pangkal keris) jatuh di tanah lalu tewas.  Sunan Prawata meninggalkan seorang putra yang masih kecil bernama Arya Pangiri, yang kemudian diasuh oleh bibinya
    yaitu Ratu Kalinyamat. Setelah dewasa Arya Pangiri menjadi menantu Sultan Hadiwijaya dan diangkat menjadi Bupati Demak.

    Ratu Kalinyamat yang sakit hati karena kakaknya dibunuh pergi bertapa telanjang di bukit Danaraja, dan bersumpah tidak akan memakai kain sebelum Arya Penangsang mati.
    Ratu Kalinyamat meminta bantuan Sultan Hadiwijaya di Pajang untuk membunuh Arya Penangsang dengan hadiah dua orang perempuan yang sangat cantik.

    Akhirnya Arya Penangsang dapat dibunuh oleh Danang Sutawijaya anak angkat Sultan Hadiwijaya. Dengan demikian maka Kerajaan Demak sudah berakhir dan menjadi Kadipaten Demak dibawah kekuasaan Kerajaan Pajang.

*sumber Babad Tanah Jawi  

Share