KI AGENG GIRING

Cerita Rakyat

Ki Ageng Giring
(Ode Pamungkas)

Konon di desa Giring daerah Gunungkidul tinggal seorang tokoh yang sakti dan dipanggil dengan nama Ki Ageng Giring. Ki Ageng Giring yang pekerjaan sehari-harinya sebagai penyadap kelapa untuk dibuat gula jawa ini juga sering bertapa dan menyepi ke tempat-tempat yang dianggap angker. Bisa di dalam gua, dibawah pohon beringin rindang yang sudah ratusan tahun umurnya, kadang di puncak bukit gunung purba bahkan juga suka juga berendam di muara kali Oya dan kali Opak waktu tengah malam.

Sebagai orang yang sakti tentu saja banyak orang yang berguru kepadanya, baik dalam olah batin maupun olah kanuragan, meski Ki Ageng Giring tidak membuat semacam Padepokan. Suatu pagi Ki Ageng Giring sedang menyadap kelapa di kebunnya yang agak jauh terpencil.  
Ketika sedang memanjat pohon kelapa untuk menyadap nira, dilihatnya disebelahnya ada sebatang pohon kelapa yang aneh karena hanya berbuah satu saja dan masih muda (degan). Tiba-tiba terdengar suara gaib.
“Giring, ketahuilah bahwa barangsiapa minum air kelapa muda itu sampai habis sekaligus,
  maka semua keturunannya akan menjadi raja besar yang menguasai seluruh tanah Jawa.”

Setelah mendengar suara itu Ki Giring segera memanjat dan memetik buah kelapa itu dan turun sambil membawa butir kelapa dengan cara digigit gagangnya, karena kalau dijatuhkan takut pecah dan airnya tidak bisa diminum lagi
Segera Ki Ageng Giring pulang membawa buah kelapa itu dengan hati-hati sehingga sampai lupa mengemasi peralatan sadapnya.

Sampai di rumah kelapa muda itu segera diparas atau dikupas bagian atasnya namun tidak segera diminumnya karena hari masih pagi dan dia berpikir tentu tidak akan habis air itu diminumnya karena belum haus.   
Ditaruhnya kelapa itu di atas paga atau para-para atau rak bambu tempat menaruh peralatan dapur. Ki Ageng Giring lalu pergi ke hutan mencari kayu bakar untuk persediaan  merebus nira agar menjadi gula kelapa atau gula Jawa.

Waktu itu Ki Ageng Pemanahan kebetulan sedang berkunjung ke rumah Ki Ageng Giring, namun tidak dilihatnya tuan rumah itu,
“Mbakyu, Kakang Giring kemana kok tidak kelihatan?”
“Kakangmu sedang mencari kayu bakar di hutan sebelah.”

Ki Ageng Pemanahan segera pergi ke dapur untuk mencari nira atau legen karena merasa haus habis berjalan jauh. Namun tidak dilihatnya air nira karena hari itu Ki Ageng Giring tidak mengunduh nira dan hanya membawa pulang kelapa muda.
“Mbakyu, kenapa Kakang Giring tidak merebus nira, saya ke dapur mencari nira kok tidak ada.”
“Ya, kakangmu hari ini tidak menyadap kelapa karena mau istirahat barang sehari.”

Kebetulan dilihatnya oleh Ki Ageng Pemanahan kelapa muda di atas para-para dan segera diambilnya untuk diminum.
Betapa terkejutnya Nyi Ageng Giring melihat Ki Gede Pemanahan mengambil kelapa muda itu.
“Adi, air kelapa itu jangan diminum. Tadi kakangmu Giring wanti-wanti tidak boleh ada yang minum air kelapa itu. Nanti saya pasti dimarahi.”
“Mbakyu jangan khawatir, bilang saja aku yang memaksa untuk meminumnya.”

Ki Ageng Pemanahan segera minum air kelapa itu sampai habis tidak tersisa setetespun, dan terasa nikmat sekali serta rasa haus hilang seketika.
Tak lama kemudian Ki Ageng Giring datang dengan memikul kayu bakar dan langsung dibawa ke dapur, dengan maksud segerea minum air kelapa saking hausnya. Tapi betapa terkejutnya ketika melihat ke para-para kelapa muda itu sudah tidak ada, mungkin dipindah oleh isterinya.
Segera dia masuk ke rumah dan dilihatnya isterinya sedang berbincang dengan Ki Ageng Pemanahan. Ki Ageng Giring menyapa Ki Ageng Pemanahan dan bertanya pada isterinya.
“Nyai, kelapa muda yang aku taruh di para-para kok tidak ada?”
“Adi Pemanahan yang mengambil, aku cegah tapi tidak mau katanya kehausan dan diminumnya air kelapa itu.”
“Iya Kakang Giring, aku yang minum air kelapa muda itu saking hausnya dan baru kali ini aku merasakan air kelapa yang nikmat sekali.”

Ki Ageng Giring terkesiap mendengar jawaban itu dan hampir saja dia marah pada Ki Ageng Pemanahan. Namun karena suasana batinnya yang tinggi dan sudah mengendap, menyebabkan dia sadar bahwa itu sudah takdir yang kuasa. Hanya saja dia menyesali kenapa tadi menunda waktu untuk minum air kelapa yang sudah jelas bahwa siapa yang meminum air kelapa itu sampai habis akan menurunkan raja-raja di tanah Jawa.
Setelah berdiam diri sejenak Ki Ageng Giring lalu membuka tabir rahasia suara gaib yang didengarnya dan disampaikannya kepada Ki Ageng Pemanahan.

Selanjutnya kepada orang-orang Gunungkidul dan anak cucunya dipesankannya agar jangan pernah menunda-nunda waktu dalam melakukan pekerjaan apapun juga, karena hanya akan menyebabkan kekecewaan yang tiada tara.

*sumber Babad Tanah Jawi

Share