SEJARAH GEREJA KRISTEN JAWA NEHEMIA

gkjnehemiafull-1

Gereja Kristen Jakarta (GKJ) Nehemia ada hanya karena berkat dan anugerah Tuhan mengingat kemandiriannya memerlukan proses yang berliku dan waktu yang sangat panjang. Dengan mengetahui sejarah ini dapat dipahami dan dimengerti betapa beratnya mendirikian suatu tempat untuk bersekutu dan beribadah. Segala daya, dana, pikiran serta didukung doa telah oleh sekelompok perintis ilanjutkan oleh orang-orang yang terpanggil dicurahkan untuk mewujudkan keinginan itu. Dan selalu ada saja jalan yang disediakan oleh Tuhan agar jemaatNya dapat bersekutu dengan tenang dan damai.

Kelompok Kebayoran

Embrio GKJ Nehemia adalah sebuah kelompok warga jemaat dari GKJ Jakarta (dahulu disebut sebagai GKJ Rawamangun) yang berdomisili di kawasan Kebayoran Jakarta Selatan. Mereka bernama Kelompok Kebayoran. Warga jemaat Kelompok Kebayoran ini punya keinginan untuk melakukan kebaktian sendiri setiap Minggu sore. Keinginan mereka pada akhirnya terwujud. Kebaktian pertama diadakan pada tanggal 12 Februari 1953 dipimpin oleh Pdt. Rusman Muljodwiatmoko, di salah satu ruang kelas SMA Negeri Kebayoran (sekarang SMA Negeri 6. Pada tahun 1955, melalui salah seorang warga, tempat kebaktian Kelompok Kebayoran ini berpindah di Sekolah Grafika, di Jln. Melawai (sekarang gedung Melawai Plaza) pada setiap minggu sore. Tempat ini lebih baik, ruangan lebih luas, pengunjung juga bertambah lebih kurang 100 orang. Sakramen Baptis pun dapat dilaksanakan. Perkembangan kelompok Kebayoran makin lama makin pesat. Hal ini tentu saja menyebabkan kebutuhan akan tempat ibadah yang lebih luas dan nyaman. Pada tahun 1961, kelompok Kebayoran menumpang kebaktian di GKI Kebayoran Baru Jln Panglima Polim I/51, yang telah didewasakan oleh induknya GKI Kwitang, pada tahun 1959. Kebaktian diadakan setiap hari Minggu jam 16.00-17.30, karena jam 18.00 akan dipakai untuk kebaktian jemaat GKI. Tercatat pada tahun 1966, peserta sakramen Perjamuan Kudus sebanyak 400 orang, dan pada tahun 1970, diperkirakan jumlah warga 850 orang. Warga jemaatnya bukan saja dari suku Jawa, tetapi juga dari suku lain.

gkjnprofill2
Menuju Kemandirian

Keinginan untuk mandiri ini disampaikan kepada majelis GKJ Jakarta terus-menerus dalam setiap persidangan Majelis. Sosialisasi dan pendekatan-pendekatan juga terus dikomunikasikan dengan pihak-pihak yang terkait. Dan bukan perkara mudah untuk memperoleh kesepakatan dan persetujuan, mengingat GKJ Jakarta sebelumnya belum prenah melakukan pembiakan jemaat sehingga wajar apabila ada pro dan kontra dalam proses kemandirian Kelompok Kebayoran. Sesudah terjadi kesepakatan antara GKJ Jakarta dengan Kelompok Kebayoran, Majelis GKJ Jakarta membuat Surat Keputusan 1 Mei 1970 no. 243/P.S./V/70, yang isinya antara lain menerangkan Bp. R.W. Singotaroeno diangkat menjadi anggota Yayasan Pembangunan Gereja GKJ di Jakarta sekaligus menjadi Ketua Badan Pelaksana untuk daerah Kebayoran Baru. Keinginan kelompok Kebayoran untuk menjadi jemaat yang dewasa dan mandiri akhirnya terwujud. Pada hari Minggu, 1 Januari 1971 pukul 16.00, diresmikan pembiakan kelompok Kebayoran menjadi Gereja Kristen Jawa (GKJ) Kebayoran. Ibadah dipimpin oleh Pdt. Roesman Muljodwiatmoko. Setelah pembiakan, GKJ Kebayoran dibagi menjadi 13 wilayah, tersebar di Jakarta Selatan, kemudian menjadi 16 wilayah. Pada awal pembiakan ini tercatat warga GKJ Kebayoran sebanyak 992 orang. Jumlah yang menunjukkan tingkat perkembangan yang pesat. Dan 20 orang saja, kini menjadi 929 orang. Ibadah setiap minggunya menggunakan (meminjam) gedung gereja GKI Kebayoran, Jakarta Selatan . Atas kerjasama dan perhatian yang baik dari Majelis GKI Kebayoran, GKJ Kebayoran diberi kesempatan untuk menggunakan segala fasilitas yang ada, yakni antara lain: penggunaan konsistori, orgel, tempat parkir, ruang pertemuan, dan lain-lain bila diperlukan. Kecuali untuk perayaan natal, karena padatnya acara natal GKI Kebayoran. Khusus untuk kebaktian Natal, GKJ Kebayoran selalu mendapatkan pinjaman tempat di sekolah YPK di Jln. Wijaya II/62 Jakarta Selatan.

Pembangunan Fisik

Keinginan untuk mempunyai tempat ibadah sendiri selalu menjadi keinginan yang senantiasa bertumbuh. Bagaimanapun enaknya menumpang di tempat yang lain, pastilah lebih enak mempunyai tempat ibadah sendiri. Oleh karena itulah, pada tanggal 1 Juni 1972, dibentuk Yayasan Pembangunan Nehemia, dengan akte notaris R. Soerojo Wongsodwidjojc SH, No. 2 Tahun 1972. Tugas utama dari yayasan ini adalah mengusahakan terbangunnya gedung gereja dengan konsistori dan pastorinya. Ketua Umum Yayasan adalah Bp. Hedijanto, Ketua I : Bp. Soemario. Keinginan jemaat GKJ Kebayoran untuk memiliki gedung ibadah sendiri ternyata mulai menampakkan titik terang. SK. Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya, tertanggal 7 Maret 1983 menyatakan agar PT Metropolitan Kencana menyediakan lokasi untuk pembangunan gedung gereja GKJ Kebayoran di dekat gedung Markas Pemadam Kebakaran Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Tanah yang akhirnya dimiliki oleh GKJ Kebayoran ini seluas kurang lebih 4200 m2, tanah yang dulunya kebun karet sepi yang tak berpenghuni. Dan setelah melalui perjalanan panjang kurang lebih 12 tahun lamanya, Tuhan memberikan kesempatan pada jemaat GKJ Kebayoran. Pada tanggal 6 Juni 1983, diadakan penandatanganan kontrak jual beli tanah serta pembayaran uang muka antara Yayasan Nehemia dengan pihak P.T. Metropolitan Kencana.

Meskipun demikian, pembangunan baru bisa dimulai pada akhir tahun 1984. Dan akhirnya selesai jugalah pembangunan gedung gereja GKJ Kebayoran pada tanggal 6 November 1985. Sejak saat itulah kebaktian Minggu dipindahkan dari gedung GKI Kebayoran ke gedung baru GKJ Kebayoran. Pada tanggal 29 November 1985, gedung gereja GKJ Kebayoran diresmikan oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta Bidang Kesra. Gereja dengan arsitektur modern ini dapat memuat 1.120 orang. Dibangun diatas tanah seluas 4.567 m2 dengan menelan biaya sekitar 350 juta rupiah hasil swadaya warga gereja dan simpatisan. Peresmian gedung gereja ini diawali dengan kebaktian yang dipimpin oleh Pdt. Harsono, kotbah diambil dari Kitab Mazmur 16. Nama GKJ Kebayoran terasa tidak pas lagi mengingat lokasinya gedung gereja yang baru terletak jauh dari wilayah Kebayoran. Sedangkan kalau menggunakan nama Pondok Indah atau Pasar Jumat, rasanya juga kurang klop. Maka pada saat itu, majelis mencari nama baru yang khas, di bawah bimbingan Pdt. Soetarman, didapatkan nama NEHEMIA. Di dalam Alkitab Nehemia sendiri adalah tokoh visioner pembangun tembok Yerusalem yang telah roboh, sebagai tempat perlindungan bagi orang-orang Israel. Akhirnya nama GKJ Kebayoran diganti menjadi GKJ Nehemia Pondok Indah. Tercatat jumlah jemaat per 1 Januari 1985, sebanyak 3.271 orang.

Berkat Tuhan memang begitu deras mengalir. Pada hari Senin, tanggal 24 April 1989 dimulai peletakan batu pertama pembangunan Gedung Serbaguna. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Pdt. Soetarman, Bp. Soetjipto, dan Bp. Srijadi selaku pengurus Yayasan Nehemia. Proses pembangunannya memakan waktu hampir 1 tahun lamannya, dan pada hari Senin, tanggal 1 Januari 1990 bertepatan dengan hari ulang tahun GKJ Nehemia ke-19, Gedung Serbaguna diresmikan. Bangunan Gedung Serbaguna ini luasnya kurang lebih 1.055 m2 (lantai atas dan bawah) dan terletak di atas tanah yang luasnya sekitar 4.980 m2. Dan setelah 38 tahun semenjak didewasakan, GKJ Nehemia tetap setia menyelenggarakan pelayanan dan selalu berkembang sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan jaman. Dengan adanya pergeseran pusat-pusat perniagaan ke selatan dan barat kota Jakarta, menjadikan GKJ Nehemia yang dulunya berupa lahan karet yang sepi menjadi salah satu titik pertemuan di bagian selatan Jakarta. Terlebih lagi dengan dibangunnya infrastruktur jalan tol JORR menjadikan akses ke daerah Lebak Bulus menjadi jauh lebih mudah, serta dengan adanya terminal bus Lebak Bulus di dekat GKJ Nehemia menjadikan GKJ Nehemia semakin mudah dijangkau. Berkat Tuhan memang tidak pernah berhenti mengalir selama masa perkembangan GKJ Nehemia sejak dari Kelompok Kebayoran hingga menjadi GKJ Nehemia. Tentu berkat-berkat Tuhan akan terus disikapi GKJ Nehemia dengan selalu mengingat dan mengucapkan syukur serta senantiasa meningkatkan pelayanan baik untuk warga sendiri maupun untuk masyarakat di sekitarnya. (Disarikan dari buku “Berkat Tuhan Sungguh Besar”, tulisan : Pdt. Agus Hendratmo)