DIPULIHKAN UNTUK BERBUAH DAN TIDAK MENJADI LAYU (MAZMUR 1: 1-6)

“Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.”
(Mazmur 1:3)

Dipulihkan Untuk Berbuah dan Tidak Menjadi Layu

Apa yang kita lakukan ketika telah pulih dari sakit penyakit? Ketika saya disembuhkan dari suatu sakit beberapa tahun yang lalu, saya selalu berusaha untuk terus merawat diri dengan menjaga dan mengatur pola makan, jenis makanan yang dimakan, pikiran, pola istirahat dan aktivitas serta melakukan berbagai upaya lainnya agar tetap dalam keadaan sehat.
Melihat dari hal ini, tentu saja yang kita lakukan setelah mendapatkan pemulihan jasmani atau sembuh dari suatu penyakit ialah harus terus merawat dan menjaga diri agar tidak kembali jatuh dalam sakit penyakit tersebut. Begitu juga seseorang yang telah dipulihkan secara rohani, seseorang yang telah dipulihkan dari dosa melalui penebusan Yesus Kristus, ia harus selalu merawat pemulihan itu agar terus bertumbuh dan dapat menghasilkan buah yang baik melalui pikiran, perkataan, dan perbuatannya.

Mazmur 1:1 – 6 memberi kualifikasi atau membagi dua tipe arah jalan dalam perjalanan kehidupan manusia di dunia, yaitu orang benar (orang yang menunjukkan sikap dekat dengan Tuhan atau orang yang berbuah) dan orang fasik (orang yang menunjukkan sikap jauh dari Tuhan atau tidak berbuah). Tetapi pemazmur mengatakan bahwa untuk terus memelihara pemulihan agar tidak sia-sia dan dapat menghasilkan buah yang baik, maka kita harus menjalani kehidupan dengan menjadi orang yang benar. Sebab, orang benar tidak akan terpengaruh dengan kehidupan duniawi yang merusak dan membahayakan kehidupan rohaninya (ayat 1) serta senantiasa membangun hidupnya di dalam Firman Tuhan (ayat 2).

Relasinya dengan Kristus bagaikan pohon berbuah yang ditanam di tepi aliran air (ayat 3a). Ia selalu meletakkan kehidupannya di sumber air tersebut yaitu Tuhan Yesus Kristus supaya selalu bisa mendapatkan aliran air yaitu merasakan Firman Allah agar ia terus bertumbuh dan menghasilkan buah-buah Roh berupa kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (Galatia 5:22-23), yang dihayati dalam pikiran dan diwujudkan dalam tindakannya sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa hidup orang benar selalu produktif secara rohani walaupun membutuhkan waktu yang tidak singkat, maka secara konsisten ia akan terus menyirami dirinya dengan Firman Tuhan untuk menghasilkan buah yang baik pada waktunya.

Orang benar selalu dilihat dan dikenal Tuhan sebagai orang yang berhasil (ayat 3b), sebab kehidupan mereka yang selalu dilandasi oleh bimbingan Firman Tuhan telah membuat akar mereka menjadi kuat dan kokoh, sehingga ketika berbagai tantangan hidup datang, mereka tidak mudah untuk ambruk atau menyerah.

Hal ini berbeda dengan orang fasik yang kehidupannya bagaikan sekam yang mudah ditiup angin, tidak bisa menentukan arah, dan mudah diombang-ambingkan oleh angin (ayat 4). Metafora ini menggambarkan kehidupan orang fasik yang tidak ada gunanya, tidak ada kualitasnya, mudah terpengaruh oleh tawaran duniawi dan tidak berbobot di mata Tuhan, sehingga ketika berbagai tantangan situasi kehidupan itu datang, ia tidak sanggup untuk bertahan dan mudah ambruk karena memilih berjalan berdasarkan pemikirannya sendiri. Mereka mudah terpengaruh dan lebih tertarik pada berbagai tawaran maupun kenikmatan yang diberikan dunia, sehingga merasa berat untuk menyenangkan hati Tuhan. Akibatnya, mereka tidak produktif secara rohani dan gaya hidup mereka tidak ada gunanya maupun tidak menambah nilai sepeser pun di mata Tuhan (Mazmur 1:4).

Begitupun dengan kita yang ketika sudah dipulihkan oleh Tuhan melalui pengorbanan-Nya di kayu salib, kita jangan merendahkan pengorbanan-Nya tersebut dengan terus memelihara pemulihan itu dalam kehidupan kita seiap hari. Mari bukalah hati untuk mengundang Yesus Kristus masuk ke dalam kehidupan kita dan biarkan Dia menjadi Tuan rumah yang mengatur, mengolah, dan merapikan hidup kita dengan terus merenungkan Firman Tuhan agar kehidupan kita bisa terus bertumbuh dan berbuah Roh yang diwujudkan melalui pikiran maupun tindakan.

Amin.

Media: GKJ-N/No.03/05/2024

Oleh: Merdekawati Solannia Mansula

Share