Jangan Biarkan Hidupmu Tersesat! (Markus 9:42-50)

Renungan Minggu, 26 September 2021

JANGAN BIARKAN HIDUPMU TERSESAT! (Markus 9: 42-50)

”Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut.”
(Markus 9: 42)

 

oleh : Pdt. Lusindo YL Tobing, M.Th.

 

 

Jangan Biarkan Hidupmu Tersesat!

Batu kilangan yang diikat ke leher seseorang yang menyesatkan, disebut di ayat pertama (sekaligus Nats) perikop kita kali ini ibu, bapak dan saudara-saudari.
Sebagai kepantasan hukuman dan sekaligus menunjukkan beratnya kesalahan di hadapan Tuhan, bila membuat orang lain tersesat, khususnya kesesatan dalam iman: “Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baikbaginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut.” (Markus 9:42)

Batu kilangan adalah batu besar datar yang diputar oleh seekor keledai dalam penggilingan gandum. Dan secara umum ayat 42-48 berkaitan karena berpusat di sekitar pengertian tentang berbagai penyesatan.
Mungkin tindakan para murid menegur si pengusir setan yang tak dikenal itu (ay. 38) telah menyinggung Kristus.
Hal ini dapat menerangkan Kristus berbicara tentang penyesatan di sini. Iman si pengusir setan yang belum berkembang harus dikembangkan lebih lanjut dan bukan dihalangi.
Kritikan tajam terhadap ketidakdewasaan rohani hanya akan membuat seseorang makin menjauh dari Tuhan.
Kata “menyesatkan” dalam istilah bahasa Yunani skandalizō berarti menaruh sebuah perangkap atau jerat di jalan yang akan dilalui seseorang, sehingga membuat orang itu tersandung.

Bukankah ini yang banyak terjadi di kehidupan dunia kita, ibu, bapak dan saudara-saudari?
Terkhusus di pandemi yang mengakibatkan terpuruknya ekonomi, pengurangan pemasukan yang dibutuhkan seseorang dan keluarga inti, dan bahkan ada tang benar-benar bangkrut dalam bisnis, juga mengalami pemutusan hubungan kerja bahkan tanpa pesangon apapun.
Hal-hal seperti ini memunculkan begitu banyaknya penipuan dan pesenyatan, dalam upaya merampas milik orang lain, minimal mencari penghidupan dengan menipu, menyesatkan dan mencurangi.

Hal ini tentu sangat tidak disukai Tuhan. Penulis Markus menegaskan hal tersebut dalam perikop kita ini.
Bahkan yang disajikan Markus menjadikan Injil ini unik di antara Injil lainnya. Gaya penulisannya telah dilukiskan sebagai jelas, kuat dan dramatis.
Jauh dari “menyesatkan.”
Realisme yang gamblang merupakan ciri khas dari gaya penulisan Markus dan caranya yang polos dalam melaporkan fakta. Semua peristiwa dilukiskan tanpa perubahan atau penafsiran berkepanjangan, dan disajikan dengan gaya laporan “langsung” oleh saksi mata. Di banyak tempat dipergunakan istilah-istilah yang sangat kuat dan jelas.

Intinya dan akhirnya ibu, bapak dan saudara-saudari: Jangan menyesatkan dan sekaligus jangan biarkan hidupmu tersesat.
Mari jangan yang menghukum diri kita dalam arti yang sesungguhnya adalah kita sendiri. Itu terjadi oleh apa yang kita lakukan dan katakan dalam kehidupan setiap hari.
Kalau kita selalu melakukan yang benar dan baik pasti kebahagian dan sukacita kekal yang akan kita terima.
Itu digambarkan dengan jelas oleh Markus di ayat penutup perikop kali ini, dengan analogi garam: “Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain.” (Markus 9:50).
Tuhan memerintahkan para murid, kini untuk kita juga, di pandemi yang berat sekarang ini, untuk diresapi dengan pengaruh yang memurnikan ini.

Mari berbagi kebaikan dan keteladanan juga pengaruh yang baik untuk orang di sekitar kita dan banyak orang lainnya.
Untuk menjadi pengaruh yang baik itu, kita sendiri harus memiliki kebaikan itu.
Tidak tersesat akan kesombongan dan pementingan diri sendiri saja.
Juga mari bersedia hidup berdamai.

Dari perspektif Markus, Tuhan Yesus Kristus mengakhiri pembahasan ini dengan satu acuan terakhir ketika perdebatan terjadi di antara para murid, tentang siapa yang paling besar di antara mereka.
Tidak tersesat (juga menyesatkan apalagi) dan selalu bersedia hidup berdamai.

Amin.

Media: GKJ-N/No.39/09/2021

Oleh: Pdt. Lusindo YL Tobing, M.Th.

Share