JANGANLAH TANGGUNGKAN DOSA INI KEPADA MEREKA (Kisah Para Rasul 7: 54-60)

“Sambil berlutut ia berseru dengan suaranyaring: “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” Dan dengan perkataan itumeninggallah ia.” (Kisah Para Rasul 2: 47)

 

Janganlah Tanggungkan Dosa Ini Kepada Mereka

Di konteks bacaan kita ini jelas digambar akan bahwa Stefanus tidak terpengaruh oleh kemarahan Sanhedrin (Mahkamah Agama adalah dewan tertinggi agama Yahudi).
Allah memberikan penglihatan berupa langit terbuka dengan Anak Manusia yang berdiri di sebelah kanan Allah. Kata-kata Stefanus sebenarnya merupakan penegasan bahwa klaim tentang Tuhan Yesus Kristus yang baru saja dibuatnya di hadapan sidang pengadilan yang sama ini, yaitu bahwa Yesus adalah Anak Manusia surgawi bukanlah bersifat menghujat, sebagaimana dituduhkan oleh Sanhedrin, melainkan justru merupakan kebenaran Allah.

Stefanus sungguh-sungguh mengklaim bahwa Yesus kini telah menjadi Anak Manusia yang ada di sebelah kanan Allah.
Mungkin di sini Dia digambarkan sebagai berdiri dari takhta-Nya untuk menerima sang martir ini. Nama Anak Manusia bukan menunjukkan kemanusiaan Yesus; nama ini merupakan gelar untuk Mesias, dan menunjukkan Mesias sebagai makhluk adikodrati dari surga.
Inilah satu-satunya tempat di luar kitab-kitab Injil di mana gelar ini dipakai untuk Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Sanhedrin mungkin telah menghukum mati Stefanus tanpa meminta izin resmi dari Pilatus. Stefanus diseret ke luar kota dan dirajam batu di tempat pelaksanaan hukuman. Saksi-saksi itu merupakan algojo yang resmi. Kalimat Stefanus menjadi Nas dan Tema kita Minggu ini, yakni: “ Sambil berlutut ia berseru dengan suaranyaring: “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” Dan dengan perkataan itumeninggallah ia.” (Kisah Para Rasul 7:60)

Stefanus, dalam kesaksiannya, telah mengingatkan mereka akan pekerjaan-pekerjaan yang telah Allah lakukan kepada nenek moyang mereka, sekaligus menyatakan ketidaktaatan mereka. Untuk kesekian kalinya, perkataan Stefanus membangkitkan amarah anggota-anggota Mahkamah Agama yang mendengarkan.
Penuh dengan Roh Kudus. Ketika seseorang berani mengatakan yang benar dan menyatakan yang salah, maka akan timbul reaksi marah dan berontak. Stefanus mengalaminya.

Mari kita bersaksi sebagai pengikut Sang Media dan umat jemaat Kristus (Gereja), bahkan semakin berani bersaksi, dengan rendah hati, berani, dan kreatif di zaman canggih digitalisasi. Dengan perbuatan nyata sederajat sehari-hari mari hadirkan Kritus dengan nyata.
Juga lewat media online untuk semakin mewartakan Kristus melalui berita kebaikan dan sikap yang membawa ketenangan, damai dan bahkan bisa membantu menolong banyak orang, suku dan bangsa apapun, dan khususnya agama apapun dengan Kasih urapan Roh Kudus.
Seperti Stefanus dipenuhi Roh Kudus, maka dalam keadaan sulit ia tetap berserah kepada Tuhan dan berdoa mohon pengampunan bagi orang-orang yang berbuat jahat kepadanya. Sikap Stefanus ini mengingatkan kita kepada sikap Tuhan Yesus Kristus ketika menghadapi penderitaan.
Ketika itu Yesus juga mendoakan orang-orang yang menganiaya-Nya. Teladan Yesus nyata dalam hidup Stefanus yang berani menderita demi kebenaran.

Amin.

Media: GKJ-N/No.01/05/2023

Oleh: Pdt. Lusindo YL Tobing, M.Th.

Share