Karunia Pemeliharaan Bapa Bagi Umat Milik Kristus (Yohanes 17: 6-11)

Renungan Minggu 24 Mei 2020

Karunia Pemeliharaan Bapa Bagi Umat Milik Kristus (Yohanes 17: 6-11)

“…Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.”
(Yohanes 17: 11)

Dipimpin oleh : Pdt. Simon Rachmadi

Pemeliharaan Allah. Providentia Dei. Allah itu pemelihara dunia dan kehidupan. Dunia dan kehidupan ini tidak berjalan otomatis begitu saja. Namun, mereka yang menganut paham deisme berpandangan sebaliknya bahwa kehidupan sekarang ini berjalan auto-pilot.
Menurut para deis ini, Allah membiarkan dinamika kehidupan dunia ini berlangsung  tanpa campur tangan-Nya baik secara langsung maupun tidak langsung. Allah dianggap sudah tidak lagi mau terlibat langsung dengan kehidupan ciptaan-Nya.

Yesus berdoa agar murid-murid-Nya selalu berada dalam pemeliharaan Allah (providentia dei). Ini berarti Yesus memohon Allah Bapa campur tangan dalam kehidupan murid-murid-Nya. Semasa Yesus ada di dunia ini, Yesus memelihara kehidupan murid-murid-Nya. Bahkan sebelum Yesus nantinya meninggalkan murid-murid-Nya, Ia telah berdoa memohon Allah Bapa sendiri yang memelihara kehidupan murid-murid-Nya.

Memahami dan mengalami pemeliharaan Allah dalam kehidupan ini akan meneguhkan iman kita. Namun banyak orang percaya yang masih keliru memahami pemeliharaan Allah dalam hidupnya,
(1) Pemeliharaan Allah disamakan dengan pengalaman mukjizat spektakuler dalam kehidupan ini. Kalau belum mengalami mukjizat spektakuler, berarti belum menerima pemeliharaan Allah dalam hidup ini;
(2) Pemeliharaan Allah identik dengan terkabulnya segala doa kita. Kalau permohonan doa kita tidak dikabulkan oleh Allah berarti Allah memang tidak memelihara kehidupan kita. Kalau kita minta kesembuhan bagi keluarga kita yang sakit, tetapi kematiannya yang justru kita hadapi, kita langsung mengambil kesimpulan Allah tidak memelihara hidup kita. Bahkan pada zaman Yesus bahkan banyak orang Israel yang secara keliru memahami bahwa  mereka yang mati muda adalah orang-orang yang hidupnya tidak dipelihara dan diberkati Allah.

Allah Bapa terlibat langsung dengan kehidupan ciptaan-Nya. Bahkan secara khusus bagi umat milik Kristus. Namun demikian, kita harus tetap memahami Allah berkarya sesuai dengan kehendak-Nya, dan bukan sesuai dengan pikiran dan kemauan kita.
Jika ada pertanyaan,”Di mana Allah, ketika dunia sedang dilanda Virus Corona?” Kita harus ingat bahwa Allah Bapa hadir dan tetap memelihara kehidupan kita dengan cara Bapa, bukan cara kita. Tuhan Allah memelihara kehidupan kita. Walau kita sering keliru berpikir Tuhan tidak memelihara kita, Ia adalah Allah pemelihara kehidupan ini. Providentia Dei! Amin.

 

Oleh: Pdt. Agus Hendratmo, M.Th.

 

Share