Kasih berarti Tidak Membiarkan Hati Kita Membatu (Yeremia 17: 5-10)

Kasih berarti Tidak Membiarkan Hati Kita Membatu
(Yeremia 17: 5-10)

“Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?” (Yeremia 17: 9)

Hati kita adalah pusat. Alkitab menyatakan bahwa hatilah pusat itu; “dari situlah (hati) terpancar kehidupan” (Amsal 4: 23 & Lukas 4: 23). Artinya, hati dapat dilihat sebagai berisi seluruh pikiran, perasaan, dan kehendak atau keinginan seseorang. Secara manusia mungkin benar ungkapan berbunyi, “dalamnya hati manusia, siapa yang tahu,” tetapi melalui penulis Yeremia kali ini kita tahu dan yakin bahwa Allah mengetahui bahkan mengenal hati setiap kita, bahkan hati setiap manusia.

Ayatnya yang kesembilan tegas menegur bangsa Yehuda di konteks Nabi Yeremia, yang “betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu;..” Allah menegaskan 3 dosa mereka yang mendatangkan bencana dan malapetaka. Pertama, dosa sudah terukir dalam hati bangsa Yehuda (1-4). Ini menggambarkan dan menunjukkan apa yang terjadi di dalam kehidupan batiniah yang menjadi pusat kepribadian mereka. Tidak ada tanda atau goresan sedikit pun pada hati mereka yang menandakan suatu respons yang baik terhadap firman Allah. Kedua, mereka lebih mengandalkan manusia daripada Allah (5-8). Ketiga, hati bangsa Yehuda sudah sedemikian bobrok dan korup sehingga tidak mungkin diperbaharui lagi (9-13). Hati mereka secara terus-menerus berpaling kepada dosa. Karena itu Allah tidak dapat dipersalahkan jika Ia mendatangkan malapetaka dan bencana besar atas bangsa Yehuda yang hidup moral, sosial, dan spiritualnya sudah bobrok dan amburadul. Namun bangsa Yehuda bukannya segera menangisi dan menyesali dosa-dosanya serta memohon belas kasihan-Nya, sebaliknya mereka mengolok-olok Yeremia dan firman-Nya yang ia beritakan. Tindakan ini menunjukkan bahwa mereka sudah tidak takut lagi terhadap penghukuman Allah, bahkan cenderung menantangnya. Hati sudah keras, membatu! Bukankah ini juga kecenderungan yang terjadi di jaman kita sekarang ini?

Mari kembali kepada Kasih Tuhan. Anda bisa di luar tampaknya tegas namun milikilah hati yang lembut, bukan hari keras atau keras hati. Sebaliknya, ada yang di luar tampil lembut namun sesungguhnya hatinya membatu, dikuasai dan dibutakan oleh dosa. Tampaknya lembut, tetapi sesungguhnya keras. Mari benar-benar di dalam hati kita adalah lembut, mau bersedia dibentuk oleh Kasih Tuhan yang Sempurna. Mari hati kita makin dekat kepada-Nya, semakin diubah jadi lebih murni, semakin berserah, tidak mengandalkan manusia saja dan (apalagi) diri sendiri. Mari kita hidup dengan hati yang benar-benar hati. Hati yang dikasihi Tuhan, dan hati yang menjadi saluran Kasih Tuhan kepada semua orang. Amin.

Oleh: Pdt. Lusindo YL Tobing, M.Th.

Share