Kesabaran (2 Korintus 6: 1-10)

Renungan Minggu, 20 Juni 2021

KESABARAN (2 Korintus 6: 1-10)

“Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran,…”
(2 Korintus 6: 4)

 

oleh : Pdt. Lusindo YL Tobing, M.Th.

 

Kesabaran

Salam sehat.
Salam prokes (Protokol Kesehatan) dan
Salam kesabaran..

Loh kok salam kesabaran ya pak pendeta? mungkin ibu, bapak dan saudari-saudara bertanya-tanya seperti itu.
Tentang sabar dan kesabaran adalah Tema ibadah saat ini.
Juga salah satu dari Buah Roh, tematik bulan Juni 2021.
Tetapi.. kesabaran menjadi hal yang semakin penting saat kita kini masih menjalani pandemi akibat Covid-19 dan mutasi virus tersebut, bahkan lengkap dengan berbagai efek yang ditimbulkan baik ekonomi, pola hidup, format ibadah kita, dan sebagainya.

1. Kesabaran
Hal ini disinggung Rasul Paulus dalam suratnya kepada umat jemaat di Korintus.
Nats kita minggu ini ada di ayat 4, demikian bunyinya, “Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran,..”

Rasul Paulus meneladani dengan sabar bekerja dengan tangannya sendiri. Paulus adalah manusia kesabaran.
Mari kita semua pun rindu dan diminta untuk seperti itu bukan?
Dengan kekuatan kesabaran Allah, lewat teladan kesabaran Tuhan Yesus Kristus dan dalam hikmat kesabaran Roh Kudus.

Di satu pihak kita semua, seperti Rasul Paulus, mengalami semua perasaan dan kepedihan manusiawi yang wajar ketika menerima berbagai masalah berat kehidupan, khususnya di tengah pandemi kini.
Di tengah hidup dan pelayannnya Paulus tidak hancur, sebaliknya membuktikan kredibilitas kehambaannya. Ia tahan (bisa baca lagi ayat 4-5), murni dan makin matang dalam berbagai kebajikan Kristen, maknai ayat 6 hingga 8.

Mari dengan kekuatan hikmat dan rahmat kesabaran dari Tuhan, seperti Paulus, kita bisa dan semakin menjadi sumber berkat untuk menguatkan hati-pikiran dipenuhi kesabaran dan sekali lagi seperti Paulus memperkaya orang yang dilayaninya (ayat 9-10), kita pun semua ibu, bapak dan saudara-saudari, kita semua adalah pelayan pendamaian, dirinya harus terus menerus mengalami pembaruan dari Allah dalam manusia rohaninya.
Melayankan bahkan menyajikan kesabaran tiap waktu di keseharian, memperkaya keluarga dengan kesabaran, memperkaya tetangga, lingkungan, sahabat dan banyak orang dengan kesabaran.

Rasul Paulus memberlakukan kesabaran di semua pelayanannya ke berbagai lokasi (desa dan kota).
Bahkan kesabaran dilatih lagi ketika Paulus harus dipenjara, namun terus mengirimkan warta keselamatan Tuhan melalui surat-surat tulisan tangannya.
Sabar menjalani hidup pekerjaan dan pelayanannya dengan kesabaran, hingga akhir hidupnya.

Seorang penjahat yang direngkuh oleh Kasih Karunia Kesabaran Tuhan, dan diubah menjadi pelayan-Nya dan pewarta Injil yang luar biasa.

Paulus menunjukkan telak bahwa kesabaran hidup dan pelayanannya, karena ia melayani Tuhan yang sudah lebih dahulu sabar dan selalu penuh kesabaran bagi diri Paulus sendiri, bagi umat jemaat-Nya dan bagi semua orang serta ciptaan-Nya.
Kita juga mau semakin memberlakukan kesabaran itu, hari-hari pandemi kini, dan semakin membawa Shalom, Shalom Kesabaran, bagi keluarga, teman umat jemaat, juga sahabat dan semua orang di keseharian.
Minimal awali hari, dan seterusnya mewartakan “Salam kesabaran”

2.Salam damai – Salam kesabaran
“Rahmat Kesabaran Allah” yang di ayat 1 ditulis “Kasih Karunia”. Disini berarti pemakluman pendamaian keselamatan.
Khususnya kepada kita yang telah menyambut-menerimanya, mari jangan mendengarkan saja, melainkan mewujudkan lewat tingkah laku, perkataan, perbuatan nyata setiap hari.

Rasul Paulus seraya menegur umat jemaat di konteksnya untuk segera bertobat, seperti ingin mengingatkan bahwa masih ada kesempatan, kini tiba kepada ibu, bapak dan saudara-saudari dan kita semua, di pertengah Tahun 2021 ini, di pandemi (yang di konteks Indonesia, termasuk kita di Jakarta, angka Covid pertengahan Juni ini naik lagi) ini untuk berjuang lebih sabar. Sabar untuk taat dan makin taat prokes (protokol kesehatan) 3M.
Kalau dari saya tambahnya: 3M + 3S & Bbm. Masih ingat dan ayo terus berlakukan ibu, bapak dan saudara-saudari 3S itu: Syukur, Semangat dan Sukacita.
Dan yang terakhir Bbm = Berserah bukan menyerah, sangat sesuai dengan tema sekarang ini, mari melestarikan dan mewujudnyatakan perbuatan-perbuatan kesabaran bagi keluarga, sahabat dan semua orang serta kejadian kehidupan.

Kesabaran adalah ketenangan hati dalam menghadapi cobaan; kesabaran adalah lawan dari kemarahan yang tidak pada tempatnya, kemampuan untuk menahan diri dalam menghadapi situasi-situasi sulit; sifat tenang; tabah; tidak tergesa-gesa atau terburu nafsu.
Ketika orang lain marah, menyakiti atau berbuat jahat kepada kita, tanpa pikir panjang kita ingin segera mendamprat atau membalasnya.
Apa bedanya kita dengan orang dunia jika demikian?
Sebagai orang Kristen kita dituntut untuk memiliki kesabaran dan saling bersabar satu sama lainnya, sebab kesabaran adalah bagian dari kasih, dan kekristenan itu identik dengan kasih.
Tertulis: “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.” (1 Korintus 13:4).

Di samping itu, kesabaran merupakan bagian dari buah-buah Roh yang harus terpancar dalam kehidupan orang percaya (baca Galatia 5:22-23). Jika kita mengaku diri sebagai orang Kristen/pengikut Kristus tapi kita tak punya kesabaran, maka kita perlu bertobat! Dengan kesabaran, seseorang dapat melihat hal-hal yang positif di tengah kesukaran sekali pun.
Ada satu perumpamaan juga yang disampaikan Tuhan Yesus Kristus, dalam rangka menunjukkan kesabaran Allah itu tanpa batas. “Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai musim panen tiba.
Pada waktu itu Aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbung-Ku” (Mat.13:30).
Allah yang maha sabar itu senantiasa mengasihi kita semua, memberi kesempatan selalu mewujudkan kesabaran di pergumulan dan perjuangan yang berat seperti pandemi saat ini.

Mari selalu daan semakin bersyukur kepada Allah yang demikian bersabar terhadap kita manusia.
Bahkan kitapun mungkin pernah juga menjadi ilalang bagi orang lain, tapi Tuhan masih memberikan kita waktu untuk kembali kepada-Nya. Kita juga kiranya tidak terlalu cepat menghakimi orang lain, mari penuh Kasih Kesabaran, sebab hanya Tuhanlah yang bisa menghakimi kita semua karena Ia mengenal kita masing-masing dengan segala kelebihan dan keterbatasan, kekurangan dan dosa-dosa kita.
Dan hendaknya kita mempergunakan kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita sebaik-baiknya untuk semakin dipenuhi kesabaran, membagikan Salam Kesabaran, dan semakin sabar dalam membenahi hidup, sabar untuk terus bertumbuh dan kesabaran yang akhirnya dapat menghasilkan buah berlimpah bagi Tuhan dan sesama manusia.
Tuhan sabar dan penuh kesabaran, karena KASIH mengatasi segalanya.

Di ayat 6 isi surat Paulus mungkin bisa diartikan: dengan tahu membedakan jang baik dan jang buruk, jang menguntungkan dan jang merugikan dalam mendjalankan tugas kerasulan.
Istilah asli dapat diterdjemahkan djuga: dengan banjak berpikir. Hal ini sangat bermakna misalnya jika hubungkan dan teringat Amsal 19:11 yang mengajarkan bahwa, “ Akal budi membuat seseorang panjang sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran.” Menjadikan kita akn bisa semakin sabar dan memberlakukan kesabaran menjalani pandemi dan berbagai tantangan zaman kini.

Apa adanya diterima Paulus, yang diberikan oleh Allah dan digunakan menurut keadilan Allah. Paulus sabar dan jujur dalam perjuangan dan dalam menangkis serangan-serangan para penentang bahkan yang menolaknya.
Mari kita juga, kita berjuang di titik yang sama sesuai Firman Tuhan Minggu ini: memberlakukan kesabaran dengan terus-menerus dan lebih nyata.
Karena Tuhan sudah lebih dahulu meneladankan kesabaran, bahkan Tuhan sudah dan selalu sabar kepada setiap kita.

Salam sehat.
Salam prokes (Protokol Kesehatan) dan
Salam kesabaran..

Amin.

Media: GKJ-N/No.25/06/2021

Oleh: Pdt. Lusindo YL Tobing, M.Th.

Share