Percaya akan Kebaikan Tuhan (Mazmur 27: 7-14)

Renungan Minggu, 13 Maret 2022
Pra Paskah II

PERCAYA AKAN KEBAIKAN TUHAN
(Mazmur 27: 7-14)

“Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan TUHAN di negeri orang-orang yang hidup.”
(Mazmur 27: 13)

 

Percaya akan Kebaikan Tuhan

Apakah Anda percaya bahwa Tuhan itu baik?
Ya, saya percaya Tuhan itu baik.
Tidak hanya baik, Tuhan itu mahabaik.
Saya yakin jawaban semacam itulah yang akan kita sampaikan jika ada orang yang bertanya kepada kita.
Ya, semestinya tidak ada orang beriman yang akan meragukan kebaikan Tuhan dalam hidup ini.
Keyakinan bahwa Tuhan itu baik atau mahabaik sudah menjadi keyakinan yang melekat dalam hidup orang-orang percaya.
Demikian pula dengan sang pemazmur.

Ia meyakini kebaikan Tuhan dalam hidupnya.
Tidak hanya dalam sukacita hidup, namun juga dalam krisis hidup.
Ketika seseorang berada dalam krisis hidup, seseorang bisa merasa ditolak dan ditinggalkan Tuhan.
Terlebih krisis yang dihadapi juga menyebabkan perubahan hidup yang drastis dalam hidup seseorang.
Dari orang kaya, tiba-tiba menjadi miskin.
Dari orang sehat, tiba-tiba menjadi orang yang sakit-sakitan. Dari orang yang dihormati pihak lain menjadi orang yang diremehkan pihak lain.
Dari orang yang disayangi keluarga menjadi orang yang dikucilkan keluarga.
Krisis yang dialami seperti ini akan mudah membuat seseorang kehilangan keyakinannya bahwa Tuhan itu baik. Jika Tuhan itu baik mengapa Ia membiarkan hal-hal buruk semacam itu terjadi pada dirinya?

Namun demikian, bacaan mazmur saat ini menunjukkan kepada kita bahwa dalam krisis hidup, Tuhan tidak meninggalkan sang pemazmur.
Tuhan tetap menyertai sang pemazmur dalam dinamika hidupnya. Perhatikan perkataan sang pemazmur yang menggambarkan keyakinannya yang kuat akan penyertaan Tuhan dalam hidupnya saat ia menghadapi krisis hidup: Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku (ayat 10).
Dilanjutkan di ayat 13: Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan TUHAN. Kata “melihat kebaikan Tuhan”, dalam teks aslinya, bisa diartikan juga “mengalami kebaikan Tuhan”.
Jadi bukan sekadar melihat, tetapi tetap mengalami kebaikan Tuhan dalam setiap krisis hidup yang dialaminya.

Itulah sebabnya, sang pemazmur tetap ingin bersama dan dekat dengan Tuhan saat menghadapi krisis hidup. Perhatikan perkataan sang pemazmur: wajah-Mu kucari ya Tuhan (ayat 8), Engkaulah pertolonganku (ayat 9), tunjukkanlah jalan-Mu kepadaku (ayat 11). S
emua perkataan ini menunjukkan sang pemazmur tidak ingin meninggalkan Tuhan saat krisis melanda hidupnya.

Mari kita jalani hidup ini seperti keyakinan sang pemaznur.
Saat kita berada dalam krisis hidup, kita yakin kebaikan Tuhan tidak berubah dalam hidup kita.
Tuhan tidak meninggalkan kita, maka kita juga belajar untuk tidak meninggalkan Tuhan saat kita menghadapi krisis hidup.

Amin.

Media: GKJ-N/No.11/03/2022

Oleh: Pdt. Agus Hendratmo, M.Th.

Share