PERSEKUTUAN YANG MENCERITAKAN KASIH ALLAH (MAZMUR 22 : 23-32)

“Aku akan memasyhurkan nama-Mu kepada saudara-saudaraku dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaah.”
(Mazmur 22:23)

Persekutuan Yang Menceritakan Kasih Allah

Kehidupan Kristen bukan hanya terdiri dari pengalaman manis yang indah untuk dikenang, melainkan juga ada pengalaman pahit yang menghadirkan duka dan penderitaan seperti sakit penyakit dan kehilangan seseorang maupun hal yang berharga. Namun, bagaimana sikap hati dan hidup orang percaya saat menghadapi pengalaman pahit?

Horatio Spafford, seorang pengacara dari Chicago yang mengalami berbagai peristiwa pahit dalam hidupnya. Kesedihan dan kepahitan menyelimuti dirinya ketika harus merelakan kematian putra satu-satunya pada tahun 1871 dan mengalami krisis ekonomi keluarga oleh karena kebakaran besar yang melanda daerah Chicago.

Dirinya yang sedang berusaha bangkit dari luka yang belum kering membuat ia harus kembali merasakan rasa sakit yang sama saat mendapat kabar bahwa kapal yang ditumpangi istri beserta keempat putrinya tenggelam di tengah lautan samudera Atlantik dan keempat putrinya tidak selamat dalam peristiwa nahas tersebut. Dalam perjalanan berlayar mengunjungi dan menjemput istrinya, Spafford melewati lokasi tenggelam kapal yang ditumpangi keluarganya dan ia memandang lokasi tersebut dengan hati yang amat tersayat. Pada saat itu juga, ia memuji Tuhan dan menuangkannya dalam sebuah lagu yang berjudul “Tenanglah Jiwaku (It Is Well With My Soul)”. Kini, lagu tersebut menjadi salah satu lagu himne klasik yang tertulis dalam buku “Nyanyikanlah Kidung Baru” (NKB) nomor 195.

Berbagai rentetan tragedi kesedihan yang menimpa Spafford tidak menutup hatinya dari Tuhan, melainkan dalam kepahitan yang dirasakan membuat ia masih memuji Tuhan atas jiwa yang telah dimampukan untuk tegar. Kesetiaan yang Spafford miliki mengingatkan kita tentang apa yang terjadi dalam pergumulan iman Daud.
Mazmur 22 menggambarkan Daud yang merenungkan kesengsaraan hidupnya melalui pujian kepada Tuhan. Kesengsaraan Daud yang digambarkan bagaikan “tulang yang terlepas dari sendinya” tidak hanya menggerogoti tubuh jasmaninya melalui sakit penyakit, melainkan juga menyerang jiwa dan semangat hidupnya oleh karena diolok-olok dan dijauhi banyak orang.

Akan tetapi, penderitaan ini tidak membuatnya menjauh dari hadirat Tuhan. Daud telah mengalami dan merasakan kasih sayang dan kesetiaan Tuhan melalui bimbingan dan pemeliharaan-Nya. Pada saat Daud menyatakan keluh kesahnya kepada Tuhan (Mazmur 22 : 1 – 22), disaat itu juga ia memuji dan memuliakan nama Tuhan (ayat 23 – 32). Daud meyakini betul bahwa Tuhan mendengar ia berteriak minta tolong (ayat 25), oleh karena itu ia memuliakan Tuhan dengan berkata “Tuhan tidak menyembunyikan wajah-Nya kepada yang tertindas”.

Pergumulan yang Daud alami tidak membawanya pada keputusasaan, melainkan mendorongnya untuk lebih dalam menghayati kasih Allah dan memampukannya untuk bersaksi kepada banyak orang tentang kasih Allah sebagai penolong dan penghibur dalam kesesakan agar setiap orang juga percaya, mengharapkan, merasakan, dan memuliakan nama Allah (ayat 26 – 27). Sikap Daud yang memberi kesaksian akan kasih karunia Allah telah menunjukkan bahwa hati yang tersentuh oleh kebaikan Tuhan tidak akan membiarkan mulut berdiam diri.

Puji-pujian Daud menyadarkan kita bahwa ada kesaksian yang akan terus dinyatakan sebagai wujud ungkapan syukur. Kesengsaraan dan penderitaan memang tidak terlepas dari kehidupan setiap orang percaya. Namun, kasih dan pertolongan Tuhan tetap kita jumpai dalam setiap situasi sulit tersebut. Oleh karena itu, sebagai tanggapan atas kasih Allah, mari kita mensyukurinya dengan tidak membiarkan kasih-Nya hanya dialami dan dirasakan oleh kita, tetapi membagikannya kepada sesama dengan menceritakan Allah yang penuh kasih agar sesama kita juga boleh melihat dan merasakan kasih Allah melalui pengalaman hidup.

Amin.

Media: GKJ-N/No.04/04/2024

Oleh: Merdekawati Solannia Mansula

Share