Sukacita Saat Berjaga-jaga (Matius 24: 37-44)

Sukacita Saat Berjaga-jaga (Matius 24: 37-44)

β€œKarena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana TUHAN-mu datang.” (Matius 24: 42)

Teks perikop kita kali ini adalah percakapan Tuhan Yesus Kristus dengan para murid-Nya di Bukit Zaitun. Sebuah peringatan yang indah untuk berjaga dengan setia dan sukacita. Untuk siap sedia secara rohani karena kedatangan Kristus kedua kali akan terjadi pada saat yang tak diduga-duga. Refleksi gambaran mengenai penghakiman bangsa-bangsa setelah Ia datang kembali ke bumi.

Hingga kini, sesungguhnya belum ada seorang pun yang mengartikan semua nubuat mengenai akhir zaman dengan kepastian penuh. Percakapan Tuhan Yesus ini, cenderung menggiring kita menyerap unsur dan makna yang rahasia, yang perlu kerendahan hati, hanya tertuju kepada Tuhan Yesus sendiri. Perhatikan dan renungkan dengan dalam bahwa di ayat 39 dengan 43, Dia tidak menyamakan murid (yaitu orang kudus zaman gereja) dengan Nuh (yaitu orang percaya masa kesengsaraan besar), tetapi dengan korban air bah pada zaman Nuh.

Maknanya adalah: orang kudus dalam satu arti adalah sama dengan korban air bah: mereka tidak akan mengetahui saat kedatangan Kristus dan akan terkejut ketika Ia datang. Karena itu semua orang kudus, termasuk kita orang yang beriman di β€œzaman now” yang penuh dengan berbagai goda, tekanan dan tipu daya, untuk senantiasa siap sedia, berjaga-jaga. Bukan dengan ketakutan apalagi putus asa. Tetapi dengan setia berpengharapan dan bersyukur-bersukacita dalam segala hal.

Mari berjaga-jaga, jangan sampai kita tertinggal. Kedatangan Anak Manusia tidak diberitahukan agar kita berpola hidup dan berpola pikir selalu siap sedia. Agar terus menerus Tuhan Yesus Kristus menjadi pusat perhatian kita saat kita berdoa, berpikir, berkata-kata, berkarya, baik saat studi, melakukan tugas kerja, pelayanan, bahkan saat detik-menit (mudah-mudahan tidak sampai berjam-jam) tiap kita menggunakan handphone dan mengisi hari-hari dengan YouTube, WhatsApp dan atau instagram. Tentu bukan untuk membully, menghakimi dan meliciki, tetapi benar-benar kita berjuang untuk mengasihi, peduli, berbagi, saling menerima, saling mendukung, menghibur, membangun semangat, juga pengharapan yang baik dan bisa lega tertawa bersama selagi Tuhan masih berikan kesempatan.

Semua hal itu jadi bukti otentik tiap hari dan sampai kedatangan Tuhan Yesus Kristus kedua kali, bahwa bukan kita sendiri saja yang berjaga-jaga, tetapi juga memengaruhi dan jika mungkin mengajak orang lain untuk berjaga-jaga dengan sukacita. Selamat memasuki Minggu-minggu Masa Adven. Bersukacita selalu saat berjaga-jaga. Amin.

Oleh: Pdt. Lusindo YL Tobing, M.Th.

Share