Tidak Mengabdi Pada Dua Tuan (Lukas 16: 10-14)

Renungan Minggu, 18 September 2022

TIDAK MENGABDI PADA DUA TUAN
(Lukas 16: 10-14)

“ Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan… Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. ” (Lukas 16: 13)

 

Tidak Mengabdi Pada Dua Tuan

Kesetiaan itu merupakan nilai primer dalam hubungan umat percaya dengan Tuhan.
Yang bisa menghancurkan kesetiaan adalah ketidaksetiaan dan kemenduaan.
Ketidaksetiaan terjadi ketika ada pengingkaran terhadap janji yang ada.
Misalnya saat seseorang dibaptis dan berjanji tetap setia pada Yesus, namun kemudian ia malah meninggalkan imannya kepada Yesus.
Sedangkan kemenduaan terjadi ketika ada penerimaan terhadap pihak lain yang menambahkan atau bahkan menggantikan apa yang sudah diterima sebelumnya.
Misalnya saat seseorang sudah mengaku menerima Yesus sebagai juruselamat, namun orang itu masih memberikan persembahan kepada berhala-berhala yang dianggapnya juga dapat menjamin dan memberikannya keselamatan.

Yesus, dalam sabda-Nya di Injil Lukas ini, menegaskan bahwa umat-Nya perlu senantiasa mengolah kesetiaan hidup pada Allah. Ada banyak hal yang bisa menyebabkan umat tidak setia dan menduakan Allah. Salah satu yang punya pengaruh kuat adalah Mamon.
Apakah Mamon itu? Mamon (Yunani: mamonas. Kata serapan dari bahasa Aram) berarti kekayaan.
Ya, kekayaan memang bisa membuat orang tidak setia pada Allah dan menduakan Allah.
Tentu saja, kekayaan tidak dengan sendirinya menjauhkan seseorang dari Allah.
Namun kekayaan jika tidak disikapi dengan hikmat-Nya, memang bisa menjauhkan seseorang dari Allah.

Ketika seseorang mengandalkan keamanan dan keselamatan pada Mamon dan bukan pada Allah, orang itu telah mengabdi pada dua tuan.
Ada kesalahpahaman bahwa mengabdi kepada dua tuan itu sesuatu yang dibenarkan. Seseorang bisa menjadi abdi Mamon dan abdi Allah. Tidak, Yesus menegaskan hal ini: seorang hamba tidak dapat mengabdi pada dua tuan. Mamon dan Allah tidak dapat disandingkan. Mamon dan Allah tidak setara. Manusia hanya mengabdi pada Allah. Manusia bisa saja memiliki kekayaan yang berlimpah dalam hidupnya, namun panggilannya adalah menjadi abdi Allah, bukan abdi Mamon.
Kekayaan yang dimiliki harus diarahkan manusia untuk menjadi semakin setia sebagai abdi Allah. Mamon untuk Alllah. Bukan Mamon dan Allah diperlakukan setara oleh manusia.
Ketika manusia merasa bisa menempatkan Mamon setara dengan Allah, yang terjadi manusia akan mengabaikan Allah dan memuliakan Mamon.

Tidak ada sesuatu pun yang bisa kita letakkan setara atau melebihi Allah.
Ketika kita telah meletakkan janji kesetiaan kita pada Yesus, Allah yang menjadi manusia, kita diingatkan dalam hidup ini seharusnya tidak ada sesuatu yang bisa mengganti atau menukar kesetiaan kita pada Yesus.
Jadi, kalau ada orang yang menawarkan Mamon dengan syarat Anda harus meninggalkan atau menduakan Yesus, saya harap Anda tidak tergoda untuk menerima tawaran tersebut.

Amin.

Media: GKJ-N/No.38/09/2022

Oleh: Pdt. Agus Hendratmo, M.Th.

Share