YESUS MEMBERI PEMULIHAN (Lukas 13: 10-17)

Renungan Minggu, 21  Agustus 2022

YESUS MEMBERI PEMULIHAN
(Lukas 13: 10-17)

“ Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga berdirilah perempuan itu, dan memuliakan Allah. ”
(Lukas 13: 13)

 

Yesus Memberi Pemulihan

Ketika kita sakit, kita tentu berharap segera sembuh.
Namun demikian, kita menyadari juga bahwa perjalanan ke arah kesembuhan kadang bisa cepat kadang bisa lambat.
Ada banyak faktor yang memengaruhi proses pemulihan kita. Mereka yang pesimis atas kesembuhan, tampaknya akan lebih lama juga mencapai proses pemulihan.
Sebaliknya, mereka yang optimis, tampaknya akan lebih baik dalam mendukung proses pemulihan kesehatan secara lebih cepat.

Bisakah kita bayangkan apa yang dirasakan dan dialami oleh seorang perempuan yang menderita sakit bungkuk punggung, yang tidak dapat berdiri lagi dengan tegak?
Bertahun-tahun, ia menjalani hidup dengan penyakitnya itu.
Apakah penderitaan tersebut membentuk hidupnya menjadi pribadi yang pesimis atau  sebagai pribadi yang optimis? 18 tahun menanggung penyakit itu pastilah bukan perkara yang mudah. Terlebih dalam zaman itu, penyakit tidak sekadar dilihat sebagai persoalan medis, melainkan juga persoalan sosial dan iman. Secara medis, perempuan itu pastilah menderita secara fisik.
Secara sosial, banyak orang akan menerapkan jaga jarak sehingga perempuan ini akan lebih banyak hidup dalam kesendirian. Secara iman, perempuan itu akan dicap sebagai orang berdosa dengan penyakitnya tersebut. Dengan kondisi semacam itu, lebih mudah membayangkan perempuan itu menjadi pribadi yang pesimis atas hidupnya.

Namun, saya melihat perempuan itu tetap menjadi pribadi yang optimis. Itu terlihat dari responsnya atas panggilan Yesus. Yesus memanggil dia (ayat 12), dan ia mendekat kepada Yesus (ayat 13) sehingga Yesus bisa meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu dan mengatakan: Hai ibu, penyakitmu telah sembuh. Seorang yang pesimis tidak akan merespons panggilan itu, terlebih belum jelas baginya untuk apa Yesus memanggilnya.
Sebaliknya, seorang yang optimis akan merespons panggilan itu, terlebih pasti tidak banyak orang yang mau memanggil dirinya. Penyakit yang ditanggungnya selama 18 tahun, tidak mengubah perempuan itu menjadi pribadi yang pesimis, tetapi ia tetap menjadi pribadi yang optimis dan berpengharapan. Dan di hari Yesus memanggil dirinya itu, ia mendapat karunia kesembuhan dari Yesus.
Tak heran, perempuan itu pun langsung memuliakan Allah dalam syukurnya.

Tetaplah menjadi pribadi yang optimis dan berpengharapan dalam situasi dan kondisi apapun yang kita alami, juga dalam kondisi sakit kita. Ketika sakit, kita ingin sembuh.
Kita bisa meyakini bahwa Yesus adalah sang penyembuh. Yesus bisa memulihkan sakit kita dan memberikan kesembuhan sesuai dengan kehendak-Nya. Kita bisa saja tidak tahu kapan itu terjadi dalam hidup kita.
Yang penting, janganlah penyakit kita menjadikan kita sebagai pribadi yang pesimis dan kehilangan optimisme dan pengharapan dalam Tuhan.

Amin.

Media: GKJ-N/No.34/08/2022

Oleh: Pdt. Agus Hendratmo, M.Th.

Share