TUNAS ISAI PEMBAWA DAMAI
(YESAYA 11: 1-10)
“Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus, sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN, seperti air laut yang menutupi dasarnya.”
(Yesaya 11: 9, TB2)

Nabi Yesaya memberikan gambaran yang indah tentang dunia baru masa depan yang diperintah oleh sang Tunas, yaitu, Tuhan Yesus Kristus. Kata Ibrani netzer (“Tunas”) mungkin merupakan akar kata dari nama Nazaret. Tuhan Yesus disebut sebagai orang Nazaret (Mat 2:23) yang bisa berarti “orang dari Nazaret” atau “orang dari Tunas”. Nahi Yesaya menubuatkan bahwa Allah akan memulihkan Israel, bahkan seluruh bumi melalui seorang raja. Raja itu keturunan Daud yang akan menegakkan keadilan dan kebenaran. Hal ini digambarkan sebagai pohon yang ditebang menjadi tunggul, yang akan bertunas, bertumbuh lebih besar daripada pohon asalnya, dan berbuah lebat.
Pohon itu adalah Yehuda dari keturunan Daud. Dari sana akan lahir tunas, yaitu Yesus Kristus yang menjadi Raja damai yang nantinya akan memimpin dengan keteraturan, keadilan, dan kedamaian (1-5).
Suasana yang digambarkan adalah seperti suasana taman Eden dengan bermacam-macam binatang yang rukun dan anak-anak bermain dengan berbagai binatang buas.
Makna refleksinya adalah pemulihan hubungan antara manusia dengan Allah dan alam. Kehidupan yang harmonis terwujud dengan kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Kerajaan-Nya menghimpun kaum sisa Israel untuk diselamatkan, dan mendamaikan relasi antar manusia yang digambarkan dengan dipulihkannya hubungan Israel dengan Yehuda (6-10). Dia -Tuhan Yesus Kristus- akan timbul sebagai Tunas dari tunggul Isai, ayah dari Daud. Tunas Isai sang pembawa damai bagi bumi.
Mari kita bersyukur menyambut Sang Tunas Isai pembawa damai. Betapa bahagianya jika kita bisa hidup damai di bumi. Kita akan menikmati suasana aman, tenteram, nyaman, dan damai. Dibtengah berbagai bencana alam, pertikaian dan bahkan perang, selalu ada pengharapan bahwa Tunas Isai – Allah dalam Tuhan Yesus Kristus selalu menyapa, menegur, dan menyediakan Kasih Karunia untuk hidup dalam syukur, kelegaan, dan damai.
Amin.
Media: GKJ-N/No.01/12/2025
Oleh: Pdt. Lusindo YL Tobing, M.Th.
