MEMBANGUN BANGSA DENGAN SIKAP INKLUSIF
(MATIUS 15: 21-28)

Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya:
”Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.”
Dan seketika itu juga anaknya sembuh.
Matius 15: 28, TB2)

Kita hidup dalam keberagaman. Dalam keluarga dan masyarakat, kita menemukan ragam perbedaan dalam cara berpikir, bertindak, berbicara, maupun merasa. Bahkan tubuh kita sendiri juga beragam, ada yang tangan kanan lebih kuat dari tangan kiri atau mata kanan dan mata kiri punya bentuk yang berbeda. Bukankah perbedaan yang ada semakin menguatkan kesatuan dalam tubuh kita? Kesatuan untuk terbuka dan menerima serta saling melengkapi antara satu dengan lainnya dalam tujuan membangun kehidupan yang harmonis, fungsional, dan visioner.

Nilai keterbukaan hadir dalam perjalanan pelayanan Yesus dan perempuan Kanaan. Awalnya, Yesus menyatakan bahwa misi-Nya sedang terfokus pada orang Israel sedangkan perempuan tersebut orang non Yahudi sehingga di luar agenda Yesus. Tetapi, Yesus terbuka kepada perempuan dan menyembuhkan anaknya melalui mujizat-Nya.

Keterbukaan-Nya menembus sekat-sekat eksklusivisme Yahudi yang sangat kental. Dia memberi ruang bagi setiap orang tanpa diskriminasi, memberi rasa aman, dan mengasihi tanpa batas. Di sisi yang lain, perempuan itu juga berani menembus sekat eksklusivisme Yahudi dan posisi perempuan sebagai kaum yang dipandang sebelah mata. Ia rendah hati, tabah, penuh pengharapan, dan tangguh meminta pertolongan dengan tujuan untuk menyelesaikan kegelisahannya karena penderitaan yang dialami anaknya.

Dari Yesus, kita belajar untuk menjadi pribadi yang terbuka dan merangkul perbedaan. Inklusif bukan meniadakan identitas kita, tetapi identitas yang saling bertemu dan mengasihi tanpa sekat. Dia menghadirkan ruang perjumpaan yang aman, nyaman, dan penuh pengharapan. Dari perempuan, kita belajar untuk tangguh, tekun, tabah, dan rendah hati untuk menyelesaikan kegelisahan. Ketika kita gelisah terhadap apa yang terjadi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, mari hadir dengan sikap kasih yang terus memperjuangkan kebenaran untuk kesejahteraan bersama. Kita merupakan bagian yang memiliki peran besar dalam membangun Bangsa Indonesia dalam pengharapan yang besar. Jangan pernah merasa kecil atau tidak punya peran, tetapi jangan juga mengecilkan sesama kita.

Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan tujuan Bangsa Indonesia dalam pembukaan UUD 1945 kiranya menjadi pengingat bagi kita untuk membangun bangsa dengan sikap inklusif yang dipenuhi kasih dan pengharapan.

Amin.

Media: GKJ-N/No.03/08/2026

Oleh: Calon Pdt. Elegan Victorioos A. Setiadi, S.Si, Teol.

slot gacor

mahjong ways

mahjong ways

slot 77

depo 10k