WARGA NEGARA YANG BERDAMPAK BAIK KARENA MENDENGAR PENGAJARAN TUHAN
(YESAYA 51: 4-8)
“Dengarkanlah Aku, hai kamu yang mengetahui apa yang benar, hai bangsa yang menyimpan pengajaran-Ku dalam hatimu! Janganlah takut jika diaibkan oleh manusia dan janganlah terkejut jika dinista oleh mereka.”
(Yesaya 51: 7, TB2)

Dalam nuansa kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia ini, ironisnya kita mendapat berbagai kabar yang menggambarkan “ketidakmerdekaan” bangsa. Dalam berita maupun sosial media, kita melihat berita negatif ekonomi, politik, toleransi, dan justru demo berlangsung satu hari setelah peringatan kemerdekaan. Pertanyaan bagi kita, apakah kita akan menjadi Warga Negara yang tenggelam dalam keputusasaan atau justru tergugah untuk berkontribusi (berdampak baik) bagi Indonesia?
Pada abad ke-6 Sebelum Masehi (SM), Israel mengalami keputusasaan yang sangat besar. Bangsa Israel dibuang ke Babel, dimana mereka hidup tanpa tanah yang nyaman dan aman, tanpa raja, dan Bait Allah dihancurkan. Pembuangan ke Babel dapat dikatakan menjadi masa paling kelam dalam sejarah. Umat Israel diliputi rasa putus asa, ketakutan, dan keraguan apakah Allah meninggalkan janji-Nya. Tetapi, Firman Allah hadir mengingatkan bahwa penderitaan yang dialami Israel di dunia tidak mengartikan bahwa Tuhan meninggalkan Janji dan Kasih-Nya.
Dan di sanalah umat Israel dipanggil untuk tidak mendengarkan penderitaan dunia, melainkan mendengar dan menyimpan Firman Allah dalam hati. Firman Allah menguatkan dan menghibur, meneguhkan iman agar tidak tenggelam dalam arus dunia, menjadikan umat berani hidup dalam kebenaran walaupun banyak yang menentang, serta menghadirkan keselamatan bagi banyak orang.
Situasi jauh lebih mencekam dibanding apa yang dialami Bangsa Indonesia saat ini. Ayat 7 mengingatkan kita sebagai pengikut-Nya, kita tahu apa yang benar dan kebenaran itulah yang menjadi cahaya dan pengharapan bagi situasi yang rapuh. Kebenaran Firman Allah menjadi suatu kebenaran universal bagi dunia. Kita tidak perlu takut untuk menyuarakan kebenaran (kenabian). Mereka yang tidak suka dengan kebenaran akan melawan, tetapi kebenaran tidak akan dikuasai oleh dosa. Terang kebenaran Firman Allah menerangi untuk menjadi pedoman dan kitalah pelaku Firman-Nya.
Falsafah Indonesia Timur seperti “Hidup Orang Basudara” (Maluku), “Satu Tungku Tiga Batu” (Papua), dan “Belis sebagai Ikatan Sosial” (NTT) menekankan kehidupan sebagai persaudaraan, kebersamaan, dan tanggung jawab sosial. Marilah menjadikan Firman Tuhan sebagai dasar kebersamaan membangun bangsa. Masa depan Indonesia ada di tangan kita yang membawa kekuatan, kebenaran, dan pengharapan.
Amin.
Media: GKJ-N/No.04/08/2026
Oleh: Calon Pdt. Elegan Victorioos A. Setiadi, S.Si, Teol.

