KALAHKANLAH KEJAHATAN DENGAN KEBAIKAN
(PIALA IKU KALAHNA SARANA KABECIKAN)
(ROMA 12: 14-21)
”Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!
(Roma 12: 21, TB2)

Pernahkah kita menjadi berbeda dengan orang lain? Menjadi berbeda mungkin membuat kita merasa malu dan terasingkan (teralienasi). Tetapi, bagaimana jika menjadi berbeda dengan sebuah dasar kebenaran yang kita pegang, apakah tetap malu atau justru menjadi percaya diri? Tentu, kita perlu melewati proses untuk ditolak dan disingkirkan, tetapi ketika dunia melihat kebenaran yang kita pegang, maka dunia dapat berpihak kepada kita. Namun, permasalahannya kita hidup di dunia yang penuh dosa dan kejahatan. Tidak sedikit jalan kehidupan kita diwarnai dengan tawaran hidup enak di dunia bersama dengan dosa-dosa. Banyak pelaku kecurangan, dalam pendidikan seperti mencontek atau joki untuk mendapat nilai bagus atau mempertahankan karir pengajar, dalam dunia pekerjaan banyak tawaran transaksi bawah meja untuk suatu kepentingan, dalam masyarakat dsb Indonesia telah terbiasa dengan hal tersebut. Lalu, apa yang menjadi keputusan kita?
Jemaat Roma juga mengalami hidup dalam rupa-rupa kejahatan. Dalam kehidupan masyarakat Romawi di pusat kekaisaran, terdapat hukum balas dendam (lex talionis) dan budaya penghormatan yang besar. Pembalasan demi suatu kehormatan begitu penting untuk dilakukan sehingga terjadi banyak pemerasan, penganiayaan, dan penyembahan berhala. Jemaat Roma dianggap aneh karena berbeda, mereka tidak menyembah kaisar bahkan memiliki pengajaran “kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan” (21). Paulus ingin menekankan bahwa kita umat beriman dipenuhi dengan Roh Kudus yang senantiasa disempurnakan dalam kasih berbeda dengan dunia. Kekristenan hadir bagi dunia untuk membawa berkat, empati-solidaritas yang menembus sekat (kelas sosial), keadilan, kedamaian, dan kasih dengan kerendahan dan ketulusan hati. Menjadi berbeda dengan dasar kasih Allah akan mentransformasi dunia yang penuh kejahatan menjadi surga di dunia yang penuh kedamaian.
Kalau hidup kita diwarnai dengan ragam kejahatan, bukan berarti kita ikut masuk. Dengan kesadaran identitas kasih dan tuntunan Roh Kudus, kita menjadi berbeda melalui usaha melawan kejahatan dengan kebaikan. Jika ada filosofi “kebo gupak” yang berarti jangan mendekat agar tidak kotor, Paulus mengajak kita untuk menarik keluar “kebo gupak” tersebut untuk dibersihkan. Menghadirkan kebaikan berarti menghadirkan keselamatan bagi sesama kita.
Amin.
Media: GKJ-N/No.05/08/2026
Oleh: Calon Pdt. Elegan Victorioos A. Setiadi, S.Si, Teol.

