KELUARGA MENSYUKURI HIDUP DENGAN MEWUJUDKAN KASIH TUHAN
(Brayat Caos Syukur Kanthi Mujudaken Katresnanipun Gusti)
(Matius 22: 34-40)
โPada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.โ
(Matius 22: 40, TB2)

Pernahkah kita melihat garpu tala? Garpu tala digunakan sebagai alat yang memancarkan dan menerima frekuensi tertentu. Garpu tala yang diciptakan dalam frekuensi 128 hz tidak akan mampu menerima atau memberikan kepada garpu tala yang memiliki frekuensi 512 hz. Tetapi, jika frekuensinya sama (misal 128 hz), ketika garpu tala 1 dibunyikan maka garpu tala 2 akan ikut berbunyi dan bergetar dengan sendirinya.
Seperti garpu tala itu, keluarga kita memiliki frekuensi yang sama dengan Allah. Sebenarnya berbeda, tetapi karena kasih-Nya, Allah menyamakan frekuensi-Nya dengan kita. Kita dapat mengalami kehadiran dan cinta kasih Allah dalam setiap aspek kehidupan. Keluarga kita bersyukur karena dilayakkan mengalami kasih-Nya dan menjadi delegasi sekaligus perintah agar dunia dapat merasakan frekuensi kasih Allah.
Pada saat itu, Yesus sedang dijebak oleh para rabi Yahudi yang sibuk menghitung 613 perintah (365 larangan dan 248 perintah) dan menentukan mana yang paling penting. Para rabi berharap bahwa Yesus akan memilih dan menimbulkan perdebatan teologis. Tetapi, Yesus punya jawaban sendiri secara radikal dengan merangkum seluruh Taurat dan Kitab Para Nabi. Pertama, kasih kepada Allah (hati, jiwa, dan akal budi) serta yang kedua, mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Yesus menekankan keduanya sejajar, artinya relasi (kasih) dengan Allah (vertikal) tidak dapat dipisahkan dari relasi (kasih) dengan sesama (horizontal).
Dari jawaban dan tindakan kasih Yesus secara radikal, kita diajak masuk dalam satu frekuensi mengasihi secara radikal. Dari aspek akal budi, kita diajak untuk memiliki pikiran yang bijak dan pengertian dalam dunia maya dan dunia nyata. Kita dapat menyaring berbagai informasi dengan kritis agar tidak terjebak dalam hoax, ujaran kebencian, dan polarisasi fitnah. Dalam aspek hati dan jiwa bukan tentang emosi sesaat atau romantisme iman, melainkan diperlukan komitmen dan keputusan kehendak keluarga kita yang utuh.
Ini rasa syukur dan kesempatan keluarga kita untuk membangun suasana hidup yang penuh cinta kasih dan memancarkannya kepada dunia yang sedang tidak baik-baik saja. Menyamakan frekuensi untuk mengalami indahnya cinta kasih Tuhan.
Amin.
Media: GKJ-N/No.04/10/2026
Oleh: Calon Pdt. Elegan Victorioos A. Setiadi, S.Si, Teol.
