HIDUP KUDUS KARENA PENUH DENGAN ROH KUDUS
(Kisah Para Rasul 7: 55-60)

β€œTetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah.”
(Kisah Para Rasul 7: 55, TB2)

Orang yang hidupnya dipenuhi Roh Kudus ibarat spons yang menyerap air bening. Apapun dan bagaimanapun dunia mau memeras, yang keluar adalah air yang bening. Justru air itu membawa kedamaian dan kesegaran bagi jiwa-jiwa yang menyaksikannya. Sebaliknya, jika tidak dipenuhi Roh Kudus, ibarat spons yang menyerap air yang begitu kotor dan baunya tak sedap bahkan orang menjauhinya. Orang yang jauh dari Tuhan, hidupnya akan mulai tercemar sedikit demi sedikit. Awalnya ia jijik dan sadar itu tidak baik, tapi lama kelamaan menjadi terbiasa dan nyaman. Tak sadar hal itu akan membawa dampak buruk dalam kehidupannya.

Kita bisa menilai, Stefanus merupakan spons yang mana? Menyerap air bersih atau air kotor? Kita bisa lihat melalui pancaran hidup Stefanus ketika ia dianiaya dan dibunuh. Hidupnya bersih, airnya begitu menyegarkan jiwa-jiwa yang harusnya mati. Mengampuni menjadi puncak penyegaran dan pendamaian itu. Ini merupakan buah dari hidup kudus, yaitu kasih yang radikal. Kasih yang ada pada jati dirinya ketika dunia sedang tidak berpihak dan berusaha membunuh setiap kita.

Hidup Kudus itu sulit atau mudah? Ia akan sulit bagi setiap orang yang berorientasi pada dunia. Ingin berkuasa dan dipandang, money oriented, self centered, transaksional (harus untung), dan tidak bersyukur atas berkat Tuhan (gagal melihat berkat-Nya). Hidup Kudus menjadi lebih mudah ketika berorientasi pada Tuhan. Hidup dengan penuh syukur, menjauhi dosa, menyadari keterbatasan dan kerapuhan diri, menyadari potensi yang dimiliki sehingga terus berkembang, dan mampu melihat berkat serta petunjuk dari Tuhan.

Hidup Kudus menjadi buah atas diri yang mau dipimpin oleh Roh Kudus bukan kedagingan yang lemah. Visi hidup kita bukan tentang dunia dengan sinarnya yang membahagiakan sementara, tetapi kepada sang Khalik yang senantiasa memberi pengharapan menuju kekudusan yang sejati. Mari, kita berbalik kepada-Nya, menyadari dan memohon ampun atas dosa, memohon pimpinan Tuhan agar kita bisa hidup kudus, dan terus menghidupi kekudusan itu sepanjang perjalanan hidup kita.

Amin.

Media: GKJ-N/No.01/05/2026

Oleh: Calon Pdt. Elegan Victorioos A. Setiadi, S.Si, Teol.

slot gacor

mahjong ways

mahjong ways

slot 77

depo 10k