IBADAH BERBUAH PENGAMPUNAN
(MATIUS 18: 21-35)
Yesus berkata kepadanya: ”Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”
(Matius 18: 22, TB2)

Filsafat Stoa (Stoisisme) menyatakan bahwa kita tidak bisa mengendalikan orang lain, melainkan diri kita sendiri. Jika kita mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan, apakah kita akan memilih untuk membalasnya dengan kebencian atau menyudahinya? Sebaliknya, jika kita punya masalah besar akibat kesalahan dan mendapatkan pengampunan (pembebasan), bukankah kita akan merasa menjadi manusia paling bahagia di dunia dan ingin membagikan kebahagiaan itu melalui pengampunan yang kita bagikan kepada sesama?
Tuhan Yesus membuat perumpamaan yang sungguh membahagiakan seorang hamba. Hamba ini berhutang 10.000 talenta kepada tuannya. 1 Talenta sama dengan 6.000 dinar sedangkan 1 dinar adalah upah sehari hamba itu bekerja. Gambaran sebuah hutang yang mustahil untuk dibayar oleh hamba tersebut, tetapi tuannya membebaskan dari hutangnya. Hamba ini pastilah berbahagia, tetapi ia kemudian berlaku buruk terhadap hamba lain yang berhutang 100 dinar kepadanya. Angka yang sangat jauh 60.000.000 dinar dibandingkan 100 dinar, tetapi ia menyiksa hamba yang lain itu. Lalu, tuannya memanggil ia kembali dan menyerahkan ke algojo sampai ia bisa membayar.
Kita adalah hamba yang memiliki hutang tidak terbatas melalui dosa-dosa yang kita lakukan dihadapan Allah. Mari kita renungkan berapa kali kita membuat dosa dalam hidup kita baik yang “terlihat” maupun “tidak terlihat”. Dosa adalah hutang darah dan Sang Domba Sejati memberikan diri-Nya yang tersalib untuk membebaskan kita dari hutang itu. Bukankah itu sesuatu yang paling berharga dan membahagiakan dalam hidup kita?
Dalam ibadah saat ini, kita diajak untuk meneladani pengampunan Allah terhadap dosa yang tak terbatas dan mengecewakan kehidupan kita. Mungkin saat ini kita punya suatu “kebencian/masalah” yang sedang atau sudah lama terpendam terhadap sesama. Ampunilah mereka, sebab semua orang berhak menerima pengampunan dan dosa (hutang) kita yang sangat besar telah diampuni. Selain itu, pengampunan mewujudkan perubahan kehidupan dari terpenjara oleh kebencian yang berbuah dosa menjadi pengampunan yang berbuah damai sejahtera. Pengampunan mewujudkan keindahan surgawi dalam perjalanan hidup kita dan semua orang ikut merasakannya.
Amin.
Media: GKJ-N/No.02/09/2026
Oleh: Calon Pdt. Elegan Victorioos A. Setiadi, S.Si, Teol.
