IBADAH BERBUAH PERTOBATAN
(YEHEZKIEL 33: 7-11)
“Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?”
(Yehezkiel 33:11, TB2)

Sebagai orang Kristen, hidup kita bukanlah sebuah aktivitas biasa seperti interaksi sosial, makan/minum, bekerja, dan lainnya. Sebagai orang Kristen, kehidupan kita adalah liturgi yang hidup. Artinya, setiap hal yang kita lakukan seperti melayani keluarga, mencari nafkah, berelasi dengan sesama, menyelesaikan masalah, dsb merupakan pemaknaan mendalam atas sebuah peribadahan. Ibadah yang sejati dilaksanakan dalam liturgi sehari-hari.
Permasalahannya, kita hidup di dunia yang penuh dengan dosa dan penderitaan. Iklan tidak senonoh di HP, persoalan keluarga, diskriminasi, pembalakan hutan, tawaran hidup enak tapi menduakan Tuhan, dan banyak hal lainnya yang membuat manusia ingin meninggalkan Tuhan demi nafsu dunia dan tak tahan dengan salibnya. Berbagai dinamika yang muncul membuat ibadah kehidupan manusia berpotensi menurun. Bahayanya, jika ia mulai mentoleransi dosa, kemudian terbiasa, ia dapat lupa bahwa yang dilakukan adalah dosa yang akan membawanya kepada kematian yang tidak berkenan dihadapan Allah. Tetapi, Allah berkenan kepada mereka yang pernah berdosa, tetapi bertobat dan menjadikan hidupnya sebagai sebuah ibadah untuk memuliakan nama Tuhan.
Pada titik inilah Yehezkiel diutus Allah untuk menjadi penjaga iman Bangsa Israel. Pada saat itu konteksnya adalah pembuangan ke Babel dan Bait Allah diruntuhkan. Hidup mereka penuh penderitaan dan berpotensi untuk menyembah allah lain (politeisme). Kehadiran Yehezkiel untuk menjaga atau memberi batas agar Israel tidak terjebak dalam dosa akibat penderitaan yang sedang dialami. Pesan kenabian Yesaya adalah pertobatan dan hidup dalam kehendak Tuhan akan membuat umat-Nya tidak kehilangan kasih dan perkenanan-Nya.
Saat ini kita diajak untuk menghayati kehidupan ini sebagai sebuah ibadah. Peribadahan dilakukan dengan kemurnian, kesucian, dan ketulusan hati sehingga kita perlu membersihkan diri dan menjaga diri kita dari noda dosa dunia. Selain itu, kita diajak untuk membawa pesan kenabian kepada dunia yang penuh dosa ini. Kita menjadi penjaga sesama umat beriman untuk menghayati hidup sebagai sebuah ibadah. Tentunya hal ini bukanlah hal yang mudah, tetapi itulah yang berkenan dihadapan Tuhan, yaitu ibadah yang berbuah pertobatan.
Amin.
Media: GKJ-N/No.01/09/2026
Oleh: Calon Pdt. Elegan Victorioos A. Setiadi, S.Si, Teol.

