KARUNIA ROH KUDUS YANG MENYATUKAN
(KISAH PARA RASUL 2: 1-13)
“Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.”
(Kisah Para Rasul 2: 4, TB2)

Setiap manusia menempuh perjalanan yang berbeda dalam peta kehidupannya. Hal inilah yang membentuk diri kita seperti sekarang ini. Seringkali dari kepelbagaian jati diri manusia membuat antara satu dengan yang lainnya sulit terhubung. Terkadang, berpikir a tetapi tindakan b atau perkataannya justru c. Ini baru diri sendiri, orang yang menerimanya juga akan berbeda, bisa jadi Leni menerimanya k atau Ndraha menerimanya sebagai n. Sebagai manusia kita perlu menyadari keterbatasan diri dan rendah hati dalam menjalaninya.
Dalam keterbatasan inilah, Roh Kudus hadir untuk menyempurnakan dan menyatukan diri-Nya dengan kehidupan kita. Dalam kesatuan bersama Roh Kudus, kita mendapat Rhema, yaitu ucapan yang spesifik benar untuk kita pahami. Rhema itu berbicara secara spesifik dan personal dalam diri kita yang unik ini. Ketika kita mendengarkan Khotbah Pendeta A atau mengalami kejadian B, bisa saja kita menangkap dan merefleksikan hal yang berbeda dengan teman atau saudara kita. Tetapi hal tersebut terasa sangat dekap (relate) dengan kita. Sehingga kita bisa menangkap Rhema dalam setiap titik perjalanan kehidupan yang kita tempuh. Tuhan mau bicara apa terhadap apa yang terjadi dengan negara, pekerjaan, pergumulan, keluarga, pelayanan, dan banyak lagi tentang kehidupan kita? Kita bisa merefleksikan di setiap tempat dan waktu.
Kita perlu rendah hati menerima Roh Kudus. Orang yang sombong dan egonya tinggi, akan menghujat kehadiran Roh Kudus, contohnya menganggap murid-murid seperti orang mabuk. Semakin kita membuka diri, semakin jelas tuntunan-Nya kita rasakan. Seperti para murid dan Roh Kudus yang telah menyatu, kini, mari kita rawat dan jaga kesatuan yang telah terbentuk melalui sejarah kehidupan. Bersama-sama kita mereduksi “ke-akuan” diri dan berkarya untuk kepentingan bersama. Dalam keberagaman (karunia-talenta), kita dirajut menjadi kesatuan anyaman yang indah. Saling berpegangan tangan, satu hati, satu tujuan, kita bergerak untuk kemuliaan nama Tuhan. Roh Kudus membersamai kita akan terus menunjukkan karya-Nya yang memelihara, membentuk, menuntun, dan menolong setiap kehidupan kita menghadirkan berkat Tuhan bagi dunia.
Amin.
Media: GKJ-N/No.04/05/2026
Oleh: Calon Pdt. Elegan Victorioos A. Setiadi, S.Si, Teol.
