AKU HENDAK MENUTURKAN KASIH SETIA TUHAN
(KAWULA BADHE MRATELAKAKEN SIH-SUSETYANIPUN PANGERAN YEHUWAH)
(YESAYA 63: 7-9)
βAku hendak menyebut-nyebut perbuatan kasih setia TUHAN, perbuatan TUHAN yang masyhur, sesuai dengan segala yang dilakukan TUHAN kepada kita, dan kebajikan yang besar kepada kaum Israel yang dilakukan-Nya kepada mereka sesuai dengan kasih sayang-Nya dan sesuai dengan kasih setia-Nya yang besar.β
(Yesaya 63: 7, TB2)

Di dalam anugerah-Nya yang besar, Allah yang penuh dengan kasih setua itu telah menjadikan Israel sebagai umat-Nya. Allah mengangkat mereka sebagai anak-anak-Nya (ayat 7-8) dan selalu memelihara mereka.
Dengan segala kebajikan yang besar itu, Allah tentu berhak berharap bangsa yang telah dipilih itu akan merespons dengan integritas dan kesetiaan kepada-Nya. Namun nyatanya, mereka berlaku tidak setia dengan melawan kehendak-Nya sehingga mendukakan Roh Kudus-Nya. Padahal Ia sendiri telah turun tangan menyelamatkan mereka. Firman Allah mengatakan bahwa Israel adalah umat-Nya. Ini terbukti karena Allahlah yang mengangkat dan menggendong mereka (baca ulang dan maknai 9), menyertai, menuntun dan menaruh Roh Kudus dalam hati mereka.
Bahkan ketika mereka memberontak, Allah sendiri bertindak menyelamatkan dan menebus mereka dalam kasih setia dan belas kasihan-Nya. Nabi Yesaya menegaskan ulang kepada umat Allah bahwa mereka memperoleh keselamatan bukan karena perbuatan melainkan karena kasih setia Allah yang besar.
Akibatnya, era kasih karunia dan belas kasihan Allah berlalu sudah. Pemberontakan itu membuat Allah berbalik melawan mereka. Jadi bukan Allah yang berubah kasih setia, melainkan umat-Nya sendiri yang demikian.
Setelah mengalami hajaran Allah, orang Israel merenungkan masa-masa ketika Allah berperang bagi umat dan bukan berperang melawan umat. Masa ketika Allah menyatakan kuasa-Nya melalui Musa, hamba-Nya. Masa ketika Ia membelah air di Laut Merah dan Sungai Yordan. Masa silam yang menyatakan bahwa tidak ada yang dapat tahan berdiri melawan kehendak dan kehadiran Allah untuk membela umat-Nya.
Demikian pula kita, dengan indah mengingat kebaikan Allah bagi umat. Niscaya tak akan putus-putus kita mengagumi kuasa-Nya yang begitu hebat. Namun alangkah baiknya bila ingatan itu muncul bukan ketika kita sedang ditegur Allah akibat dosa yang kita lakukan. Namun di semua keadaan dan kondisi kita mengenang masa-masa indah berjalan bersama Tuhan. Ingatan akan kemurahan dan kasih karunia Allah seharusnya mendorong kita untuk setia merespons dengan tetap setia beriman, mengasihi-Nya dan semakin mengasihi sesama manusia. Selamat menjelang akhir tahun 2025, mari setia menuturkan kasih setia Tuhan, selamanya.
Amin.
Media: GKJ-N/No.04/12/2025
Oleh: Pdt. Lusindo YL Tobing, M.Th.
