KELUARGA MENSYUKURI HIDUP DENGAN MENJADI TELADAN BAGI SEMUA ORANG
(1 TESALONIKA 1: 1-10)
“..sehingga kamu telah menjadi teladan untuk semua orang yang percaya di wilayah Makedonia dan Akhaya.”
(1 Tesalonika 1: 7, TB2)

Salah satu falsafah Jawa menyatakan “Nrimo ing Pandum”. Arti dari falsafah tersebut adalah menerima kenyataan hidup yang dialami baik dalam keadaan suka maupun duka. Menerima bukan dalam konotasi negatif yang berkeluh kesah, melainkan melihat dan ada bersama dengan realita serta berjuang dengan penuh sukacita. Dasar dari menerima realita karena mensyukuri kasih Allah yang memampukan kita untuk terus ada sampai saat ini.
Jemaat Tesalonika adalah jemaat muda. Maksudnya, iman mereka masih muda sekaligus diperhadapkan dengan konflik dan ancaman dari sekitarnya. Tetapi, di tengah keadaan tersebut mereka tidak mengeluh, melainkan menerima dan dalam sukacita berjuang bersama. Rasa syukur menjadi alasan dan kekuatan bagi mereka karena mengalami kuasa Roh Kudus (5) menjadi sukacita menghadapi penderitaan (6) dan dari sanalah mereka menjadi teladan. Kata “muda” yang seringkali menjadi bahan meremehkan, tetapi mereka menunjukkan iman yang muda justru menjadi teladan bagi kehidupan bersama.
Syukur merupakan respons iman. Dengan iman, memampukan kita untuk melihat karya Allah yang agung dibelakang layar dibalik layar depan yang kita lihat. Di depan layar hidup bercampur dengan penderitaan melalui permasalahan/konflik baik dalam keluarga dan lingkungan sekitar kita. Tetapi, tidak menghilangkan pandangan kita bahwa dibalik layar kehidupan yang terlihat ini, Allah terus menyatakan karya dan kuasa-Nya. Rasa syukur inilah yang menjadi sebuah kelegaan dan kekuatan untuk setiap keluarga kita tetap bertahan dalam iman, konsisten dalam kasih, dan berpengharapan.
Kita mulai dari melihat dan menerima realita yang nyata di depan keluarga kita. Baik keadaan susah maupun bahagia, kita alami bersama. Lalu, kita melihat dengan mata iman tentang kehendak dan karya seperti apa yang sedang Tuhan rajut dalam kehidupan keluarga kita. Hal itulah yang membuat kita merasa sangat beruntung dan bersyukur karena kuasa Tuhan tidak pernah absen bagi keluarga kita. Rasa syukur akan menjadi mesin penggerak untuk keluarga kita bersukacita, bertekun, berpengharapan, teguh, dan tetap mengasihi walaupun sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Dengan demikian keluarga kita menjadi teladan bagi dunia.
Amin.
Media: GKJ-N/No.03/10/2026
Oleh: Calon Pdt. Elegan Victorioos A. Setiadi, S.Si, Teol.
