MENGENAL TUHAN DALAM KASIH SETIA-NYA
(HOSEA 5:15-6: 6 )
βSebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.β
(Hosea 6: 6, TB2)

Hari-hari ini kita melihat banyak berita yang cukup menyedihkan dalam skala nasional dan internasional. Kita tidak ingin terhanyut dalam kesedihan, tetapi mencoba melihat bahwa hal-hal tersebut akibat dosa manusia. Ketamakan, keegoisan, kepentingan, glorifikasi diri yang menghasilkan diskriminasi, kolonialisasi, rasisme, ketidakadilan, dan kebenaran yang semakin bias. Secara mendasar, dosa dan kedagingan lebih menarik daripada hidup dalam kebenaran yang membuat manusia menderita di dunia. Dosa dilakukan secara sadar. Jika dikatakan dosa juga dilakukan dalam ketidaksadaran, maka ia tidak mengenal sang Kebenaran.
Tuhan menginginkan kita agar hidup dalam kebenaran. Seperti Dia yang adalah Sang Setia, Dia ingin kita juga setia kepada-Nya. Yang Tuhan inginkan adalah pengenalan akan Allah yang membuat kita tahu mana kehendak-Nya dan mana yang melawan-Nya (dosa). Persembahan (korban bakaran) itu penting, tapi pengenalan lebih penting. Pengenalan kepada Allah akan menghasilkan buah-buah yang manis, termasuk dalam memberi diri, persembahan, membuat keputusan, tindakan, cara berpikir dan merasa yang lebih berhikmat. Kasih setia Allah menubuh dalam hidup kita sehingga dosa tidak menguasai kita dan dunia, melainkan menghasilkan kemajuan.
Setia itu mudah ketika semuanya baik-baik saja. Tetapi, ketika kita dihadapkan dalam persoalan berat yang memaksa kita memilih antara setia pada Allah tapi kita terkena dampak buruk atau meninggalkan Allah tapi hidup kita aman di dunia. Disinilah letak nilai kesetiaan itu sehingga Allah menghendakinya. Kesetiaan pada kebenaran akan menghasilkan pemulihan, kedamaian, kesehatan (jasmani dan rohani), dan kebahagiaan dalam Tuhan. Ketidaksetiaan adalah sebaliknya. Ketika sudah dikuasai dosa, seseorang akan melihat kesetiaan sebagai suatu penderitaan, tetapi orang yang setia akan menjalani dengan penuh sukacita karena itu jati dirinya untuk hidup dalam kebenaran.
Bagaimana dengan kesetiaan dalam kehidupan kita? Kiranya Firman Tuhan saat ini menjadi cermin untuk kita dapat melihat perjalanan iman kita. Allah adalah Kasih Setia, Dia tidak meninggalkan kita. Kita sadar, kita begitu rapuh, kita perlu bertobat dan menyesali dosa pelanggaran kitai. Mari berbalik kepada-Nya dan hidup dengan setia.
Amin.
Media: GKJ-N/No.01/06/2026
Oleh: Calon Pdt. Elegan Victorioos A. Setiadi, S.Si, Teol.
