PANGIBADAH NGEWOHI TUHU TUWIN PRACAYA
IBADAH BERBUAH KETAATAN DAN PERCAYA
(MAZMUR 25: 1-10)
”TUHAN itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat. Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati.”
(Mazmur 25: 8-9, TB2)

Otak manusia memiliki kemampuan yang disebut sebagai neuroplastisitas (neuroplasticity). Neuroplastisitas adalah kemampuan otak sebagai pusat syaraf tubuh untuk menyesuaikan kebiasaan (habit) kehidupan sehari-hari. Contohnya, ketika seseorang berdoa atau beribadah dengan konsisten, bagian otak yang mengatur rasa damai dan empati (korteks prefrontal dan sistem limbik) menjadi lebih aktif. Artinya, ibadah secara biologis menumbuhkan kepercayaan dan ketaatan: tubuh dan pikiran belajar untuk tenang, fokus, dan mengikuti nilai yang diyakini benar. Sains membuktikan bahwa ibadah bukan hanya kegiatan spiritual, tetapi juga proses pembentukan karakter dan kepercayaan yang nyata.
Pemazmur sedang membentuk kebiasaan (pola) hidup yang baru untuk taat dan percaya kepada Tuhan. Ia sadar dosa (pelanggaran) akibat perbuatannya di masa lalu membuat hidupnya begitu berantakan dan memalukan. Ia menyesal memohon pengampunan dan bimbingan Allah untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Pemazmur ingin hidup dalam jalan Allah yang penuh dengan kesetiaan dan kebenaran dalam perjanjian dan peringatan-peringatan-Nya. Ia yakin bahwa dengan membentuk pola hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan, hidupnya tidak akan dipermalukan, melainkan dituntun dan diberkati.
Kita semua punya dosa di masa lalu. Dosa yang begitu memalukan di hadapan Allah. Mari dengan kerendahan hati dan ketulusan kita memohon ampun atas segala dosa di masa lalu. Kita adalah manusia yang membutuhkan tuntunan dan peringatan Tuhan agar tetap hidup dalam jalan-Nya. Kita tidak diajak untuk memelihara pola hidup dalam dosa, tetapi mengangkat setiap hidup (jiwa) kepada Allah untuk memohon bimbingan-Nya sebagai umat perjanjian masa kini.
Mari membentuk pola kehidupan yang sesuai dengan kehendak Allah dengan meninggalkan hal buruk dan menata hal baik dalam hidup kita. Kita wujudkan melalui pikiran, perasaan, perkataan, dan perbuatan bagi diri kita sendiri dan sesama. Dalam segala keadaan (suka maupun duka), kita belajar konsisten untuk mempertahankan ketaatan dan percaya. Taat dan percaya memang tidak mudah, tetapi kebiasaan (neuroplastisitas) yang menolong dan mengingatkan tubuh kita. Tuhan yang menemani, menguatkan, dan membimbing perjalanan hidup kita
Amin.
Media: GKJ-N/No.04/09/2026
Oleh: Calon Pdt. Elegan Victorioos A. Setiadi, S.Si, Teol.
