TUHAN TIDAK MENYERAHKAN KITA KE DUNIA ORANG MATI
(MAZMUR 16: 1-11)
“sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan.”
(Mazmur 16: 10, TB2)

Bagaimana kabarnya hari ini? Mungkin ada yang merasa kehidupan ini begitu berat. Banyak tantangan dan rintangan yang harus dihadapi. Harus menjalaninya dalam kesendirian karena sepertinya dunia tidak berpihak pada kita. Cobaan datang silih berganti tanpa pernah berhenti. Bahkan rasanya ingin menyerah. Setiap kita memiliki tantangan yang berbeda-beda. Ada yang terlihat begitu bahagia tetapi dibaliknya, ada kesedihan yang begitu mendalam. Ketakutan, kekhawatiran, dan kecemasan menguasai kehidupan kita.
Menjadi Kristen apakah artinya kita harus berbohong dan menganulir perasaan tersebut? Tidak. Justru kita belajar jujur untuk menerima realitas dunia. Kita melihat dengan mata yang lebih jernih. Banyak hal yang tak dapat kita kendalikan yang punya dampak besar terhadap hidup kita. Tetapi, banyak juga yang bisa kita kendalikan. Seperti cara merespons (pikiran dan perasaan), serta mengambil tindakan dan keputusan yang bijaksana.
Seorang filsuf yang bernama Epictetus adalah seorang budak. Suatu kali ia diludahi oleh atasan namun diam saja. Lalu, temannya bertanya, kenapa ia tidak membalas? Katanya, apa bedanya air ludah sama air hujan? Mereka sama-sama membasahi hidup kita. Epictetus tidak memikirkan untuk balas dendam, justru ia mengontrol diri dalam sebuah pemaknaan sederhana air hujan. Ia memiliki ketenangan dalam hal yang bisa dikontrol. Daud juga sama. Sadar bahwa kepemimpinannya membawa kejayaan besar bagi Israel melampaui pendahulunya. Ia memiliki semakin banyak musuh. Kekhawatiran, ketakutan, dan kesedihan muncul karena ia dan bangsa Israel diperhadapkan dengan kebinasaan. Tetapi Daud mengontrol diri dan kembali mengingat bahwa ia tidak sendiri. Tuhan bersama Daud, sehingga Daud dipenuhi sukacita dan kedamaian.
Tuhan ada bersama-sama dengan kita. Tidak pernah sekalipun Dia membenci/tidak mau menolong/meninggalkan kita. Iman menghasilkan pengharapan dan pengharapan menjadi daya untuk merajut masa depan yang indah. Kita dimampukan melewati setiap perjalanan hidup yang kita anggap berat, ternyata bisa dan berhasil karena Tuhan menyertai kita. Semua rasa takut digantikan dengan kesukacitaan dan kedamaian. Kebangkitan-Nya menyelamatkan dan memulihkan kita. Tuhan tidak menyerahkan kita ke dunia orang mati.
Amin.
Media: GKJ-N/No.02/04/2026
Oleh: Calon Pdt. Elegan Victorioos A. Setiadi, S.Si, Teol.
