BERTUMBUH DENGAN HATI YANG BIJAK DAN PENUH PENGERTIAN
(Tuwuh Salebeting Manah ingkang Wicaksana Tuwin Kalimpadan)
(1 Raja-raja 3: 5-12)
“ ..maka sesungguhnya Aku melakukan sesuai dengan permintaanmu itu, sesungguhnya Aku memberikan kepadamu hati yang penuh hikmat dan pengertian, sehingga sebelum engkau tidak ada seorang pun seperti engkau, dan sesudah engkau takkan bangkit seorang pun seperti engkau.”
(1 Raja-raja 3: 12, TB2)

Pernahkah kita mendengar kalimat semacam ini, “orang Kristen kok seperti itu?” Kalimat ini muncul ketika ada seorang Kristen tetapi tindakan, perkataan, dan pikirannya tidak mencerminkan kasih. Sebagai orang Kristen, tentu kita memiliki expected behavior, yaitu sebuah harapan perilaku yang muncul melalui identitas kita sebagai pengikut Kristus. Kekristenan yang penuh kasih, keramahtamahan, penolong, memiliki hati yang bijak, dan penuh pengertian.
Dalam bacaan saat ini, kita melihat kisah yang populer dalam Alkitab, yaitu kisah Salomo yang meminta hati yang penuh hikmat dan pengertian. Hati yang dimaksud oleh Salomo adalah budi atau hati nurani yang hidup di kedalaman kehidupan Salomo. Dengan kerendahan hati, ia tidak sekedar meminta kecerdasan tetapi hati yang mau mendengar dan peka terhadap kehendak Allah dan umat. Salomo menyadari terdapat expected behavior yang diharapkan menjadi raja yang baik bagi bangsa Israel. Salomo meminta hikmat dan pengertian untuk menjadi raja yang baik dalam setiap keputusannya.
Setiap orang menaruh expected behavior kepada kita sebagai orang Kristen. Kehadiran yang diharapkan untuk membagikan kasih dan sukacita bagi orang-orang sekitarnya. Tetapi, tentunya itu bukan hal yang mudah. Seringkali hidup kita dikelilingi dengan berbagai macam persoalan yang membuat emosional dan rasional menjadi tidak stabil. Kedagingan yang menguasai seringkali membawa hidup kita ke tindakan-tindakan yang tidak menyukakan hati Tuhan dan melukai sesama. Hal yang sangat sulit ketika keadaan sedang tidak baik-baik saja kemudian kita harus menghadirkan kasih yang netral dan menggembirakan. Jika hal-hal tersebut sering terjadi, maka disitulah kesempatan kita untuk merendahkan diri dan mau mendengar kehendak Allah. Kehendak-Nya akan menajamkan kita untuk menjadi pribadi yang membawa kabar sukacita (Injil) bagi dunia.
Mari, saatnya kita merendahkan diri, terus belajar, dan mengasah kepekaan terhadap kehendak Allah. Dari Salomo, kita belajar apa yang paling dibutuhkan sebagai pengikut-Nya, yaitu hati yang bijak dan penuh pengertian. Roh Kudus selalu membersamai untuk menuntun setiap langkah kita. Firman ini bukan hanya untuk anak muda seperti Salomo muda, tetapi semua yang mau mendengar-Nya. Selamat bertumbuh.
Amin.
Media: GKJ-N/No.04/07/2026
Oleh: Calon Pdt. Elegan Victorioos A. Setiadi, S.Si, Teol.
